< >
cowo-ndeso

Chi_Q_Ka

MEMBER LAIN
MAILING LIST
Dapatkan berita HOT terbaru di email Anda setiap hari!

Masukkan alamat email
Menurutmu, klub poligami itu:
Bagus juga, biar legal
Bener-bener nggak setuju!
Bodo amat, yang penting pasanganku nggak
Setuju, asal ada poliandri juga
Terserah deh, nggak peduli

POLLING LAIN
INFO VALAS
KURS
JUAL
BELI

USD
9470.00
9371.00

SGD
6825.15
6729.15

HKD
1222.85
1208.15

CHF
9331.05
9206.05

GBP
15730.35
15510.35

AUD
8780.95
8650.95

JPY
105.48
103.42

SEK
1385.25
1357.35

DKK
1907.65
1865.85

CAD
8990.35
8851.35

EUR
14088.10
13913.10

SAR
2534.20
2490.20

NZD
6961.75
6831.75


13-Nov-2009 08:59 WIB
Sumber: klikbca.com


Marylin Manson: 'THE HIGH END OF LOW', Ironi American Dream's

Selasa, 30 Juni 2009 19:19
KapanLagi.com -
Oleh: Galih Akbar

Brian Hugh Warner adalah ironi dari tipikal aroganisme industri musik Amerika, akrab dengan imej alter egonya yang berada di antara bom sex Marylin Monroe dan serial killer psikopat Charles Manson, cukup sudah tujuh back cataloguenya memberikan warna bagi industri musik paman Sam. Sekaligus membuktikan jika Amerika memang memiliki ego terlalu besar, persis seperti dirinya sendiri.

Musikalitas pria asal Ohio ini sebenarnya pernah benar-benar moncer saat merilis EAT ME, DRINK ME di tahun 2007 lalu, saat ia telah benar-benar meninggalkan penari burlesque Dita Von Teese, setelahnya sosok Marilyn Manson nampaknya telah cukup puas dengan penjualan 44 juta kopi album secara global.

Namun, kini setelah dua tahun hiatus, tak percuma Marilyn Manson, Twiggy Ramirez, Ginger Fish, Chris Vrenna kembali dengan THE HIGH END OF LOW, bahkan bisa jadi nama terakhir yang merangkap sebagai produser berduet dengan Sean Beavan, adalah salah satu faktor kesuksesan album ke-7 band asal Florida ini, setidaknya secara musikal.

Album yang juga menjadi ajang reuni Manson dengan sang lost boy, Twiggy Ramirez ini juga menegaskan jika Marylin Manson masih berkarakter, dengan aransemen gothic-industrial rock, tentu saja riff gitar Ramirez berperan penting.

Tidak ada pesan istimewa di THE HIGH END OF LOW, hampir semua senada, masih dengan lirik sarkas serta eksplisit, sejak opening single Arma-Goddamn-Motherfuckin-Geddon yang memuntahkan desibel tinggi dan berat, potensial untuk jadi the next hits single The Beautiful People, hingga track penutup bertitel 15, semuanya apoliptikal dan disajikan selama satu jam duabelas menit.

Masalahnya, track yang menggempur telinga selama itu mungkin akan terkesan repetitif, belum lagi secara lirik, Manson rasa-rasanya masih merupakan ancaman bagi kaum konvensional. Namun, bisa jadi justru disinilah letak kejeniusannya, bukankah sama saja dengan promo gencar ala RBT band tanah air yang membosankan, namun efektif nan submisif. Intinya, Manson masih melakukan propaganda.

Simak saja track nomor 12 We're From America yang memiliki ide serupa dengan single debut albumnya, Portrait of an American Family, sama-sama mengolok-olok American dream's.

Kemudian propaganda Manson berlanjut pada Four Rusted Horses, sebuah track yang jauh dari deru shyntesizer namun mengandalkan gitar acoustic serta country riff, dilatari oleh string section yang memainkan nada #minor. Track berdurasi lima menit ini membuat Manson seakan bernyanyi dengan gaya John Denver.

Sisanya, eksperimental prog-rock I Have To Look Up Just To See Hell dan track bernuansa classic-rock ballad Running To The Edge Of The World memang membuktikan jika Marylin Manson bukan hanya kontroversial, tapi mampu menunjukkan aransemen yang kaya warna.

Overall, album ini berpotensi sukses menggeser masterpiecenya, EAT ME, DRINK ME. Dan seperti imejnya yang telah direncanakan dengan cerdik, karya Marylin Manson hampir selalu manjur. Kontroversial, submisif, dan banyak terjual, memenuhi setiap syarat kesuksesan ala American Dream's, ironis. (kpl/bar)


KOMENTAR PEMBACA


'THE GHOSTS OF GIRLFRIENDS PAST', Hantu Dari Masa Lalu 'THE GHOSTS OF GIRLFRIENDS PAST', Hantu Dari Masa Lalu
Connor Mead (Matthew McConaughey) adalah tipe pria yang tak punya perasaan. Connor yang bekerja sebagai fotografer selebriti tak bisa menjalin sebuah hubungan asmara cukup lama untuk berakhir dalam sebuah pernikahan. Semuanya berjalan normal bagi Connor hingga suatu saat ia mendapat sebuah kunjungan yang tak akan dilupakannya seumur hidup. klik...
Saosin: 'IN SEARCH OF SOLID GROUND,' (Bukan) Pencarian Jati Diri Saosin: 'IN SEARCH OF SOLID GROUND,' (Bukan) Pencarian Jati Diri
Tak usah terlalu berharap akan adanya sesuatu yang 'wah' dalam album terbaru Saosin kali ini. Tapi jangan salah, album studio kedua band asal Newport Beach, California, yang dibentuk tahun 2003 ini bukannya tidak bisa dianggap bagus. Namun, para penggemar Saosin yang sudah mengenal mereka sejak gebrakan EP pertama TRANSLATING THE NAME mungkin harus siap-siap merasa kecewa. klik...
PHOTOSHOT