< >

Ngorok Bikin Prestasi Melorot!

Selasa, 29 November 2005 10:00
KapanLagi.com - Mendengkur atau lebih dikenal dengan istilah ngorok tak hanya dialami orang dewasa, ngorok juga dialami anak-anak. Bagi kebanyakan orang dewasa 'penyakit berisik' ini bisa memicu berbagai masalah, sama halnya dengan dengkuran yang dialami anak-anak.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Hongkong, Senin (28/11/05) menyebutkan bahwa anak-anak yang mendengkur saat tidur dua kali lebih mungkin mengalami penurunan prestasi di sekolah dan menderita hiperaktif.

Dari penelitian tersebut mencatat, sekitar 23 persen anak-anak yang tidurnya mengorok memiliki rekor akademis buruk dibanding 13,5 persen mereka yang tak mendengkur sewaktu tidur.

Pengkajian yang dilakukan para pakar gangguan pernafasan terkait dengan pola tidur di Chinese University, Hongkong, juga menemukan bahwa para pendengkur lebih memiliki kemungkinan untuk cepat naik darah, dengan 35 persennya memiliki kontrol perangai yang buruk, 75 persen lebih tinggi dari pada mereka yang tidak mendengkur.

Pendengkur juga memiliki kecenderungan kuat untuk hiperaktif, dengan 23% yang diagnosa memang demikian adanya ketimbang 13% mereka yang tidak ngorok.

Asal Muasal Ngorok

Bisa dibilang ngorok adalah penyakit berisik yang sangat menganggu baik bagi si pendengkur sendiri maupun bagi si pendengar. Tapi yang pasti, dengkuran menandakan adanya penyumbatan di saluran pernapasan saat seseorang sedang tidur. Nah, suara dengkuran yang menggangu tersebut berasal dari usaha udara untuk melewati saluran sempit tersebut yang akhirnya keluar sebagai suara dengkuran.

Sederhananya, saat kita tidur, otot menjadi lebih rileks ketimbang saat kita terjaga (termasuk otot pernapasan), otot yang rileks membuat saluran napas menyempit dan mengakibatkan penyumbatan. Kondisi tersebut makin diperparah apabila penderita dalam posisi tidur telentang, sehingga lidah yang melemas terjatuh ke belakang, yang makin menimbulkan penyumbatan dan menciptakan getaran suara dengkuran.

Mendengkur sendiri dibedakan menjadi beberapa jenis, ada dengkuran ringan, dengan suara halus dan berlangsung terus-menerus yang dijumpai saat awal tidur dan umumnya merupakan tanda kelelahan.

Jenis lainnya adalah dengkuran keras, terputus-putus, serta diikuti hentakan napas yang dalam. Dalam istilah medis, pola dengkur henti napas ini disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS).

Biasanya penderita gangguan napas obstruktif saat tidur (OSAS) ini sering terbangun pada malam hari dengan jantung berdebar dan saat bangun pagi, biasanya penderita merasa kurang tidur, badan menjadi tak segar, dan tak jarang disertai sakit kepala

Prestasi Buruk

OSAS juga bisa juga menyerang anak-anak yang memiliki porsi berat badan berlimpah (gemuk) atau anak yang menderita pembesaran amandel. Karena kurangnya tidur dimalam hari membuat anak menjadi mengantuk saat di sekolah, bahkan membuat mereka dicap sebagai pemalas.


ngantuk di kelas

Mereka mengeluhkan rasa kantuknya yang berlebihan, bahkan bisa sangat menganggu aktivitas mereka. Tak jarang penderita bisa tertidur di kelas, di tempat umum, saat belajar, diskusi, bahkan saat menunggu lampu lalu lintas berganti hijau.

Gangguan konsentrasi dan kecenderungan menjadi pelupa adalah akibat rendahnya kualitas dan kuantitas tidur. Perubahan tingkah laku seperti mudah tersinggung, marah, agresif, pencuriga, cemas, dan depresi sering menyertai penderita ngorok.

Albert Martin, ketua riset tersebut, mengatakan dirinya yakin anak-anak yang tidurnya mengorok lebih memiliki kecenderungan untuk berprestasi buruk di sekolah karena mendengkur mengurangi kualitas tidur mereka.

Menurutnya, para orang tua yang anaknya tidur mengorok sebaiknya membawa anak mereka ke rumah sakit atau klinik guna menjalani pemeriksaan. Mengorok diyakini mempengaruhi perkembangan otak pada anak-anak dengan memotong pasokan oksigen ke otak selama tidur. (rit)


KOMENTAR PEMBACA


ARTIKEL LAIN