< >

Perjalanan Opium

Jum'at, 16 September 2005 11:35
KapanLagi.com

3400 SM

Pada awalnya bunga opium (candu) dikembangkan di Mesopotamia. Bangsa Sumeria menyebutnya Hul Gil (tanaman kegembiraan) yang kemudian menularkan pengaruh dan efek tanaman tersebut pada bangsa Assyrians. Seni mengumpulkan dan meramu opium ini berlanjut dan menyebar dari Assyrians ke Babylonia sampai ketangan bangsa Mesir.

1300 SM

Bangsa Mesir kuno, tepatnya penduduk ibu kota Thebes mulai menanam bunga opium di ladang mereka, ihwal perjalanan candu mulai menyebar. Perdagangan bunga opium dimulai pada masa pemerintahan Thutmose IV, Akhenaton dan Raja Tutankhamen.

Rute perdagangan meliputi Phoenicians (negara maritim di barat daya Asia dan sepanjang laut Mediterania, saat ini Siria dan Lebanon) dan Minoans (wilayah Pulau Kreta, Yunani). Mereka membawa candu dalam rute perdagangan menyeberangi Laut Mediterania menuju Yunani, Carthage (kota kuno di Afrika Utara, di Teluk Tunisia), dan Eropa.

1100 SM

Sebelum jatuhnya Troy, bangsa Cyprus yang dikenal dengan "Peoples of the Sea" mulai menanam dan memanen opium sendiri. Meskipun dimasa ini opium cenderung lebih digunakan sebagai rokok, mereka juga membuatnya sebagai komoditi dagang.

460

Pada masa ini opium mulai dikenal sebagai bagian dari pengobatan. Hippocrates, 'bapak pengobatan' membuang efek negatif candu dan mengakuinya sebagai bagian dari pengobatan penghilang rasa nyeri untuk menahan pendarahan untuk pengobatan penyakit dalam, penyakit pada wanita serta wabah.

330

Alexander the Great mulai mengenalkan candu pada bangsa Persia dan India.

400

Candu thebaicum dari lahan Thebes, Mesir dibawa ke Cina oleh saudagar Arab.

1020

Filsuf dan ahli medis Avicenna dari Persia mengatakan opium sebagai candu adalah senyawa pembuat 'mabuk' yang paling hebat.

1200

Risalah kedokteran India kuno The Shodal Gadanigrah dan Sharangdhar Samahita menulis penggunaan candu sebagai obat untuk menyembuhkan diare dan disfungsi seksual. Kitab Dhanvantri Nighantu mengatakan bahwa candu adalah senyawa yang termasuk dalam golongan medis.

1300

Keberadaan candu hilang selama rentang waktu dua ratus tahun dalam sejarah Eropa. Candu menjad subjek yang tabu untuk dibahas di masa Holy Inquisition (masa dimana Gereja Katolik Roma melakukan penekanan dan pemeriksaan pada hal-hal berbau klenik/mistik). Dalam masa Inquisition ini, orang Eropa memiliki keyakinan bahwa apapu yang dibawa dari Timur memiliki hubungan dengan setan.

1500

Orang Portugis mengenal candu saat berlayar di Laut Cina Timur, mereka menganggap efek spontan pada candu adalah sebuah praktik barbarian dan pemberontakan bangsa Cina.

1527

Selama periode Reformasi, candu dikenalkan kembali dalam literatur medis Eropa oleh Paracelsus sebagai laudanum (candu larut, biasanya digunakan dalam pengobatan). Candu disulap menjadi pil hitam atau lebih dikenal dengan sebutan Stones of Immortality (Batu Keabadian) yang terbuat dari campuran opium thebaicum, air jeruk, dan saripati emas sebagai penawar rasa sakit.

1600

Orang Persia dan India mulai mengenal dan mengkonsumsi campuran candu sebagai bagian. Pedagang Portugis mengusung candu dari India melalui Makao ke Cina dalam rute perdagangan.

1606

Ratu Elizabeth I memerintahkan menyewa kapal untuk membeli opium India terbaik dan membawanya ke Inggris.

1620 -1670

Tentara Rajput berperang melawan bangsa Mongol untuk mengenalkan tradisi 'nyandu' ke kerajaan Assam, sebuah kerajaan di Timur Laut India. Pada masa ini tentara Rajput mengkonsumsi candu setiap hari. Mulai 1637 candu menjadi komoditi utama perdagangan Inggris ke Cina.

1680

Ahli obat Thomas Sydenham mengenalkan Laudanum, sebuah pil yang diramu dari olahan campuran candu, anggur sherry dan tumbuh-tumbuhan. Laudanum sangat populer sebagai penyembuhan berbagai penyakit.

1700

Belanda mengekspor opium India ke Cina dan kepulauan di Asia Tenggara; orang Belanda mulai mengenalkan nyandu dengan menggunakan pipa ke masyarakat Cina.

1729

Emperor Cina Yung Cheng mengeluarkan surat perintrah larangan merokok candu dan peredaran perdagangan domestik yang berhubungan dengan candu, kecuali sebagai obat.

1750

India Timur dibawah pemerintahan Inggris mengontrol pertumbuhan dan perkembangan candu secara langsung di India. Inggris mendominasi perdagangan candu mulai wilayah Calcutta sampai China.

1753

Linnaeus, bapak ilmu tanaman, pertama kali mengklasifikasikan opium, Papaver somniferum - semacam obat penidur – dalam bukunya Genera Plantarum.

1767

Perusahaan Inggris di India Timur mengimpor opium ke daratan Cina tidak kurang dari 2,000 paket opium tiap tahunnya.

1773

Perusahaan India Timur mengajukan kebijakan monopoli terhadap semua opium yang diproduksi di Bengal, Bihar, dan Orissa. Warren Hastings mulai memperkenalkan sistem kontrak dalam jual-beli opium, yaitu diperdagangkan melalui jalur pelelangan.

1793

Perusahaan Inggris di India Timur mulai menjalankan kebijakan monopoli perdagangan opium. Semua petani opium di India tidak diperbolehkan menjual produksi opiumnya pada perusahaan dagang kompetitor.

1796

Impor opium ke Cina dilakukan melalui jalur perdagangan gelap. Perak diselundupkan ke luar negeri untuk ditukar dengan candu (opium).

1797

Perusahaan India Timur mulai memperkenalkan Regulasi Bengal IV untuk mengesahkan penunjukkan agen opium sebagai perantara pembelian opium dari para penanam opium, serta memprosesnya pada pabrik-pabriknya sendiri di daerah Patna dan Ghazipur.

1799

Kaisar Cina, Raja Kia, melarang opium secara keseluruhan, serta membuat kebijakan bahwa perdagangan dan penanaman opium adalah tindakan melanggar hukum.

1800

Perusahaan perdagangan Inggris membeli hampir separuh jumlah opium yang diekspor dari Smyrna, Turki, khusus untuk kepentingan impor Negara Eropa dan Amerika Serikat.

1803

Friedrich Sertürner ilmuwan dari Paderborn, Jerman, menemukan bahan-bahan aktif dalam opium dengan cara melarutkannya dalam zat asam, kemudian menetralisirnya dengan amonia, dan menghasilkan alkaloids - Principium somniferum, atau disebut juga dengan morfin.

Para ahli kesehatan mempercayai bahwa opium sudah disempurnakan dan dijinakkan. Morfin disebut-sebut sebagai 'Obat Milik Tuhan' karena keandalannya, efek jangka panjangnya, serta keamanan pemakaiannya.

1805

Penyelundup dari Boston, Massachusetts, bernama Charles Cabot mencoba untuk membeli opium dari perusahaan Inggris, kemudian menyelundupkannya ke Cina dengan didukung sepenuhnya oleh kalangan penyelundup Inggris.

1812

Warga Negara Amerika bernama John Cushing, yang bekerja di perusahaan pamannya, James & Thomas H. Perkins di Boston, memperoleh kekayaan yang sangat banyak dari hasil menyelundupkan opium dari Turki ke Kanton, Cina.

1816

John Jacob Astor, penduduk kota New York, bekerja di perusahaan penyelundupan opium. Perusahaan dagangnya di Amerika membeli 10 ton opium Turki, kemudian kapalnya membawa barang gelap itu ke Kanton melalui Macedonia. Astor kemudian menghentikan perdagangan opium ke Cina, dan menjualnya hanya untuk Inggris.

1819

Penulis John Keats bersama para sastrawan Inggris lainnya menganjurkan agar opium hanya digunakan untuk konsumsi kesenangan pribadi kalangan menengah ke atas, dan tidak digunakan secara terus-menerus sebagai candu.

1821

Thomas De Quincey menerbitkan pengalaman autobiografinya berkaitan dengan masalah kecanduan opium, berjudul Confessions of an English

Opium-eater.

1827

E. Merck Co, perusahaan di Darmstadt, Jerman, mulai melakukan produksi morfin untuk kepentingan komersial.

1830

Ketergantungan Inggris terhadap opium untuk kepentingan pengobatan dan bersenang-senang mencapai jumlah tertinggi untuk pertama kalinya dalam sejarah. Tercatat tidak kurang dari 22,000 pon opium yang diimpor Inggris dari Turki dan India.

Jardine-Matheson Co, dari London mewarisi produksi dan perdagangan opium India dari Perusahaan Inggris di India Timur, ketika mandat untuk memerintah dan mengatur kebijakan perdagangan Inggris di India tidak diberlakukan lagi.

1837

Elizabeth Barrett Browning menjadi seorang pecandu morfin. Namun, hal ini tidak mempengaruhi kemampuannya untuk menuliskan puisi-puisinya.


Perokok Opium

18 Maret 1839

Lin Tse-Hsu, penegak hukum kekaisaran Cina yang bertanggung-jawab menghentikan perdagangan opium di Cina, memerintahkan semua pedagang asing untuk menyerahkan opium mereka. Inggris menanggapi kebijakan Cina tersebut dengan mengirimkan kapal-kapal perang ekspedisinya ke daerah pesisir pantai Cina, dan memulai Perang Candu yang pertama.

1840

Para pendatang baru asal Inggris membawa 24,000 pon opium ke Amerika Serikat. Hal ini menarik perhatian pihak bea cukai Amerika Serikat, karena pajak yang diperoleh dari impor opium sangat besar.

1841

Cina berhasil dikalahkan oleh Inggris pada Perang Opium yang pertama. Selain diharuskan membayar ganti rugi yang besar, Cina juga harus merelakan wilayah Hong Kong untuk diserahkan pada Inggris.

1842

Disepakatinya Perjanjian Nanking antara Ratu Inggris dan Kaisar Cina.

1843

Dr. Alexander Wood dari Edinburgh menemukan cara baru untuk mengkonsumsi morfin, yaitu melalui injeksi dengan menggunakan jarum suntik. Dia menemukan efek morfin pada pasiennya bereaksi lebih cepat dan tiga kali lebih ampuh dibandingkan dengan cara konvensional.

1852

Inggris tiba di Burma, mengimpor opium dalam jumlah besar dari India dan menjualnya dengan menggunakan kebijakan monopoli yang dikontrol oleh pemerintahan setempat.

1856

Inggris bersama-sama dengan Perancis kembali menantang Cina dalam Perang Opium yang kedua. Setelah kalah dalam perang, Cina dipaksa lagi untuk membayar ganti rugi. Impor opium kemudian disahkan secara hukum. Sejak saat itu produksi opium semakin meningkat di daerah-daerah dataran tinggi kawasan Asia Tenggara.

1874

Peneliti asal Inggris, C.R. Wright, berhasil mensintesiskan diacetylmorphine atau dikenal sebagai heroin untuk yang pertama kalinya. Dia mendapatkannya dengan cara memanaskan morfin di atas kompor.

Di San Fransisco, merokok candu di daerah perkotaan dibatasi hanya pada tempat-tempat tertentu agar pengaruhnya tidak menyebar ke daerah Pecinan.

1878

Inggris mengesahkan Undang-Undang Candu dengan harapan bisa mengurangi jumlah konsumsi opium. Dibawah aturan hukum yang baru, penjualan opium tidak diperbolehkan lagi bagi kalangan pengguna opium asal Cina dan India, sementara itu warga Birma dilarang keras merokok opium.

1886

Inggris menguasai kawasan Timur Laut Birma, negeri Shan. Produksi dan penyelundupan candu di sepanjang daerah dataran rendah Birma berkembang pesat, meskipun Inggris berusaha keras untuk melakukan monopoli terhadap perdagangan candu.

1890

Kongres Amerika Serikat, memulai upaya penegakan hukum atas Undang-Undang Anti Narkotiknya dengan cara memaksakan pajak yang tinggi atas pemakaian opium dan morfin.

Tabloid milik William Randolph Hearst menerbitkan berbagai cerita tentang wanita kulit putih yang dirayu oleh pria Cina dan candu mereka untuk membangkitkan ketakutan terhadap 'Risiko Kuning' yang merupakan kampanye anti narkoba yang dilakukan secara halus pada publik.

1895

Heinrich Dreser, karyawan Perusahaan Bayer di Elberfeld, Jerman, menemukan bahwa mengurangi takaran morfin dengan menggunakan asetil dapat menghasilkan obat yang tidak mengandung efek samping morfin. Bayer memulai produksi diacetylmorphine dengan nama 'heroin'. Namun 3 tahun kemudian, heroin tidak lagi diproduksi untuk kepentingan komersial.

Awal Tahun 1900

Perkumpulan amal Saint James di Amerika Serikat melakukan kampanye anti-narkoba dengan cara mengirimkan sampel heroin secara gratis melalui pos, yang ditujukan pada para pecandu yang mencoba berhenti dari kebiasaan candu mereka. Sementara itu, upaya Inggris dan Perancis untuk mengawasi produksi opium di kawasan Asia Tenggara memperoleh keberhasilan gemilang. Namun pada akhirnya, kawasan Asia Tenggara ini menjadi 'segitiga emas' yang justru memiliki peran sangat besar dalam perdagangan opium di era tahun 1940-an.

1902

Dalam berbagai jurnal kesehatan, para pakar kesehatan mulai membicarakan efek samping dari penggunaan heroin sebagai cara menanggulangi kecanduan morfin. Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa pasien mereka malah menderita ketika berhenti diberi heroin, karena efeknya ternyata sama saja dengan kecanduan morfin.

1903

Ketergantungan pada heroin meningkat sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan.

1905

Kongres Amerika Serikat melarang semua bentuk penggunaan opium.

1906

Cina dan Inggris akhirnya menyetujui kesepakatan untuk melarang perdagangan opium Sino-India. Beberapa pakar kesehatan melakukan eksperimen dengan melakukan terapi penyembuhan untuk pecandu heroin. Dr. Alexander Lambert dan Charles B. Towns menjelaskan mengklaim bahwa teknik penyembuhan mereka adalah yang tercanggih, terefektif, dan termaju diantara teknik penyembuhan ketergantungan heroin lainnya. Teknik penyembuhan mereka terdiri dari 7 hari terapi, termasuk 5 hari yang digunakan untuk menetralkan heroin dari sistem organ tubuh pasien dengan menggunakan beberapa dosis dari belladonna delirium.

Kongres Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang Narkoba dan Makanan Sehat, dengan memerintahkan pelabelan semua obat-obatan yang dipatenkan oleh perusahaan-perusahaan farmasi. Hasilnya, angka penggunaan opium bisa ditekan secara signifikan.

1909

Larangan obat federal pertama diberikan di Amerika Serikat yang melarang pengimporan candu. Undang-Undang itu disahkan sebagai persiapan untuk konferensi di Shanghai, dimana Amerika Serikat memaksakan agar paket Perundang-undangan itu bisa menekan jumlah penjualan opium ke Cina.

1 Februari 1909

Komisi Opium Internasional menggelar konferensinya di Inggris. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Dr. Hamilton Wright dan Uskup Henry Brent. Keduanya berupaya untuk meyakinkan delegasi dunia yang hadir disana akan ancaman moral dan efek mematikan dari penggunaan opium.

1910

Setelah selama 150 tahun gagal membebaskan negaranya dari ketergantungan opium, Cina akhirnya berhasil memaksa pihak Inggris untuk menghentikan perdagangan opium antara Cina dan India.

17 Desember 1914

Akta Narkotika Harrison mulai diberlakukan untuk menghentikan adiksi dan penyalahgunaan narkoba (terutama jenis kokain dan heroin). Akta tersebut mengharuskan setiap penggunaan narkotika harus terlebih dahulu melalui persetujuan dokter, ahli farmasi, dan pihak lain. Selain itu produk narkotika juga dikenakan pajak yang tinggi.

1923

Bendahara Badan Narkotika Amerika Serikat (lembaga pemerintahan pertama yang khusus menangani masalah narkoba) melarang semua penjualan narkotika, meskipun secara legal. Karena dengan pemberlakuan ijin pembelian heroin secara legal, para pecandu malah berpaling ke penjual narkoba di jalanan.

1925

Di saat Amerika mulai memberlakukan larangan perdagangan opium, sebuah pasar gelap narkoba juga baru beroperasi di daerah Pecinan, New York.

1930-an

Sebagian besar heroin ilegal yang diselundupkan ke Amerika Serikat berasal dari Cina yang dikemas di Shanghai dan Tietsin.

Awal 1940-an

Di saat pecah Perang Dunia II, rute perdagangan opium dihalangi serta jalur pendistribusian opium dari India dan Persia terputus. Karena khawatir akan kehilangan kekuatan monopoli mereka atas opium, Perancis mendorong para petani untuk meningkatkan produksi opium mereka.

1945-1947

Burma memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada akhir Perang Dunia II. Penanaman serta perdagangan opium mulai merebak di kawasan Shan.

1948-1972

Kawanan gangster Korsika mendominasi pasar heroin di Amerika Serikat, dengan memanfaatkan hubungan mereka dengan Mafia penyalur narkoba. Setelah mengemas opium mentah dari Turki di laboratorium Marseilles, heroin menjadi semakin mudah diperjual-belikan oleh para junkies di jalanan kota New York.

1950

Amerika Serikat berupaya untuk mencegah penyebaran Komunisme di Asia dengan meminta dukungan dari suku-suku dan para ksatria untuk mengamankan daerah 'Segitiga Emas' (termasuk Laos, Thailand, dan Birma), serta menjamin aksesibilitas dan perlindungan hingga melingkupi wilayah perbatasan Tenggara Cina. Dalam rangka mempertahankan hubungan baiknya dengan para ksatria itu, selain memberikan sejumlah besar dana untuk memerangi komunisme, Amerika juga mempersenjatai para ksatria dan semua tentara mereka dengan amunisi, senjata, dan transportasi udara untuk kelancaran produksi dan penjualan opium. Akibatnya terjadilah penyelundupan heroin secara besar-besaran ke Amerika, yang jatuh ke tangan para penjual serta pecandu narkoba.

1962

Birma mencabut aturan hukumnya atas masalah opium.

1965-1970

Amerika dipersalahkan atas ketelibatannya dalam perang Vietnam, karena mendorong terjadinya penyelundupan heroin ke negara adidaya itu. Untuk membantu sekutu Amerika Serikat, Badan Intel Amerika (Central Intelligence Agency, CIA) menyewa sebuah maskapai penerbangan, Air America, untuk membawa opium mentah dari Birma dan Laos. Selain itu sejumlah besar opium juga dibawa ke Marseilles oleh para gangster Korsika untuk dikemas menjadi heroin dan dikapalkan menuju AS dengan bantuan Mafia Perancis. Jumlah kasus kecanduan heroin di Amerika Serikat meningkat drastis hingga 750.000.

Oktober 1970

Penyanyi legendaris, Janis Joplin, ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah hotel di kawasan monumen Hollywood. Diduga kuat dia menjadi korban overdosis akibat pemakaian heroin.

1972

Ekspor Heroin dari kawasan 'Segitiga Emas' di kawasan Asia Tenggara dikendalikan oleh ksatria asal negeri Shan, bernama Khun Sa. Daerah tersebut menjadi kawasan penghasil opium terbesar di tengah perdagangan narkoba yang sangat menguntungkan.

Solomon Snyder dan Candace Pert menemukan adanya reseptor opiat di otak manusia, yang bisa dengan mudah dimanipulasi oleh setiap orang.

1 Juli 1973

Presiden Nixon mendirikan Badan Penanggulangan Narkoba (Drug Enforcement Administration, DEA) dibawah kendali Departemen Kehakiman untuk menyatukan semua kekuatan yang dimiliki pemerintah untuk menanggulangi permasalahan narkoba di bawah satu komando.

Pertengahan 1970an

Saigon jatuh ke tangan Amerika Serikat. Pencarian sumber opium mentah mulai dilakukan di kawasan Sierra Madre, Mexico. Opium mentah yang mereka sebut 'Lumpur Meksiko' untuk sementara waktu menggantikan konsumsi heroin 'Putih' dari Cina hingga tahun 1978.

1975

Hans Kosterlitz and beberapa koleganya memulai eksperimen isolasi dan pemurnian opioid endogen yang terdapat dalam otak, bernama enkefalin.

1978

Pemerintahan Amerika Serikat dan Meksiko menemukan sebuah cara untuk memusnahkan sumber opium mentah, dengan cara menyemprotkan Agent Orange di ladang-ladang candu. Rencana pemberantasan ini berhasil menekan jumlah 'Lumpur Meksiko' berkurang secara signifikan di pasar narkoba Amerika Serikat. Sementara itu sebuah daerah penghasil heroin baru ditemukan di wilayah 'Bulan Sabit' yang melingkupi Iran, Afghanistan, dan Pakistan. Dari sana diproduksi secara besar-besaran dan diselundupkan banyak kemasan heroin ilegal.

1982

Bintang komedi ANIMAL HOUSE FAME, John Belushi, tewas akibat overdosis dalam penggunaan heroin dan kokain. Belushi meregang nyawa sesaat setelah menghisap campuran heroin-kokain (speedball)

13 September 1984

Pejabat pemerintahan Amerika Serikat mengakiri program pemberantasan narkobanya di belahan dunia ketiga, setelah selama lebih dari satu dekade tidak berhasil menjalankan program pengalihan penanaman opium ke penanaman bibit tanaman bahan pangan. Produksi mariyuana maupun tanaman candu tidak bisa diberantas tanpa adanya upaya pemusnahan tanaman tersebut, disertai dengan jalan penegakan hukum. Laporan tentang rendahnya keberhasilan program pemberantasan itu tersebar secara merata di Birma, Pakistan, Meksiko, dan Peru.

1988

Produksi opium di Birma meningkat pada saat kepemimpinan rezim junta mulai dibentuk semacam konsul penegak hukum, yang disebut State Law and Order Restoration Council (SLORC).

Upaya penggagalan distribusi heroin terbesar terjadi di Bangkok, pihak pemerintah Amerika menduga sebanyak 2.400 pon heroin yang akan diekspor tersebut akan didistribusikan di kota New York. Semua produk ilegal itu berasal dari kawasan 'Segitiga Emas' yang dikendalikan oleh penguasa candu setempat, Khun Sa.

1990

Pengadilan Amerika Serikat menjatuhkan hukuman pada Khun Sa, pimpinan Tentara Kesatuan Shan dan bandar besar narkoba, atas kegiatan pendistribusian heroin yang dilakukannya. Jaksa Pengadilan Tinggi AS menuntut Khun Sa karena telah mengimpor sebanyak 3,500 pon heroin ke kota New York dengan ancaman hukuman penjara selama 18 bulan. Penahanannya itu membuatnya tidak memiliki kekuasaan lagi untuk menjalankan bisnis heroinnya di Bangkok.

1992

Bandar candu terbesar di Kolombia mulai mempromosikan sebuah kemasan heroin dengan dosis yang sangat tinggi ke Amerika Serikat.

1993

Tentara Thailand dibantu Badan Penanggulangan Narkoba Amerika (Drug Enforcement Agency, DEA) melakukan serangkaian operasi untuk memusnahkan ribuan hektar tanaman opium dari ladang-ladang yang terdapat di sepanjang kawasan 'Segitiga Emas'.

Januari 1994

Upaya Amerika Serikat untuk membasmi opium dari sumbernya mengalami kegagalan. Pemerintahan Clinton merubah kebijakan kampanye anti-narkoba yang diwariskan oleh pemerintahan terdahulu. Kali ini fokusnya adalah pada upaya 'pembangunan institusi' dengan harapan bisa memperkuat tatanan pemerintahan demokratis ke seluruh dunia. Hal itu diharapkan dapat mencegah perilaku melanggar hukum sekaligus mempromosikan kesempatan melakukan aktivitas ekonomi yang sah.

1995

Kawasan 'Segitiga Emas' di Asia Tenggara menjadi produsen opium terbesar, yang bisa menghasilkan sekitar 2,500 ton setiap tahunnya. Menurut pendapat seorang pengamat permasalahan narkoba di AS, terdapat sebuah rute penyebaran narkoba yang baru dari Birma melalui Laos kemudian menuju Cina Selatan, Kamboja, dan Vietnam.

Januari 1996

Khun Sa, salah seorang bandar narkoba terkuat di kawasan Shan, 'menyerah' kepada SLORC. Pemerintah Amerika Serikat curiga dan mengkhawatirkan kesepakatan antara rezim junta dengan Khun Sa ini akan memberikan kekuasaan pada 'raja opium' itu untuk mengendalikan perdagangan opiumnya, sebagai ganti atas penghentiannya dalam melakukan perang revolusi menentang pemerintahan yang ada saat itu.

November 1996

Organisasi penyebaran narkoba internasional termasuk Cina, Kolombia, dan Meksiko bertekad untuk melakukan pemasaran heroin secara agresif di kawasan Amerika Serikat dan Eropa.

1999

Ditemukan sebanyak 4.600 ton bibit tanaman candu di Afghanistan. Badan pengawasan narkoba PBB memperkirakan bahwa sekitar 75% dari produksi heroin dunia terdapat di kawasan Afghanistan.

2000

Pimpinan Taliban, Mullah Omar membantah adanya penanaman opium di Afghanistan. Badan pengawasan narkoba PBB melaporkan bahwa produksi opium sudah tidak ada lagi.

Juli 2001

Portugal melegalkan semua penggunaan narkotika untuk konsumsi pribadi.

Musim Semi 2001

Perang terjadi di Afghanistan, heroin mulai membanjiri pasar Pakistan. Rezim Taliban berhasil digulingkan dari kursi kekuasaan.

Oktober 2002

Badan PBB untuk Pengendalian dan Pencegahan Kejahatan Narkoba, mengatakan bahwa Afghanistan kembali menduduki posisinya sebagai produsen opium terbesar di dunia.

Desember 2002

Dalam rancangan program kesehatannya, Pemerintah Inggris memperkenankan penggunaan narkotika secara gratis untuk keperluan perawatan klinis. Para konsumen memandang skeptis rencana pemerintah tersebut.

April 2003

Negara Korea mendukung dilakukannya ekspor narkoba secara besar-besaran untuk bisa memasuki dan menguasai pangsa pasar heroin di Australia.

October 2003

Badan POM Amerika Serikat (Food and Drug Administration, FDA), serta Badan Penanggulangan Narkoba Amerika Serikat (Drug Enforcement Administration, DEA) melakukan upaya hukum khusus untuk menghentikan penjualan narkotika secara on-line di internet oleh situs perusahaan farmasi.

Januari 2004

Perkumpulan konsumen se-Amerika mengajukan gugatan hukum pada pembuat Oxycontin, Purdue Pharma. Perusahaan tersebut diduga telah menggunakan paten palsu dan melakukan praktek perdagangan kotor dengan memblokir resep obat generik yang murah untuk kepentingan pasien yang sedang sakit.

September 2004

Singapura mengumumkan rencananya untuk menghukum Chew Seow Leng, yang menggunakan heroin untuk mengobati dirinya sendiri. Di bawah hukum Singapura, pemakai heroin yang kronis dianggap sama saja dengan 'pengedar'. Siapa saja yang tertangkap tangan menggunakan lebih dari 15 gram (0,5 ons) heroin selama sehari, bisa diancam dengan hukuman mati.

September 2004

Sebuah perusahaan di Tasmania mempublikasikan secara mendetail tentang produk opiumnya yang dikembangkan secara genetis. Obat hasil mutasi itu dinamakan 'Top-1' (thebaine oripavine poppy 1), yang tidak mengandung morfin atau kodein. Tasmania adalah tempat yang memiliki 40% opiat legal dari seluruh dunia. Tanaman opium alaminya sudah dinetralkan dengan teknik mutasi. Beberapa ahli bahkan berharap perkembangan tanaman dan mikroorganisme opium generasi baru ini dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan pada akhir abad ke-21 nanti.

September 2004

FDA memberikan ijin produksi untuk obat penghilang rasa sakit, Palladone yang dikemas dalam bentuk kapsul yang mengandung hidromorfin dengan dosis tinggi. Palladone didesain untuk menghilangkan rasa sakit dalam jangka panjang yang biasa digunakan dalam terapi penyembuhan ketergantungan opium.

Oktober 2004

Panduan terapi baru untuk penderita kecanduan dirilis oleh DEA. Panduan tersebut memberikan legalitas bahwa para dokter tidak ditahan, apabila mereka melakukan perawatan yang layak bagi pasiennya. Kepala divisi narkoba DEA, Patricia Good, mengatakan bahwa aturan baru itu sengaja dibuat agar para dokter berhenti memberikan pengobatan pada pasiennya secara agresif.

Desember 2004

Seorang spesialis terapi perawatan ketergantungan narkoba dari McLean, Dr William E. Hurwitz, dipenjara dengan tuduhan memberikan resep obat penghilang rasa sakit di atas dosis normal kepada seorang pasiennya yang mantan pecandu kronis. Dalam kesaksiannya di pengadilan, Dr Hurwitz menjelaskan bahwa penghentian pemberian pengobatan pada pasiennya secara tiba-tiba sama saja dengan melakukan 'penyiksaan'.

Mei 2005

Para peneliti di klinik Ernest Gallo dan Pusat Penelitian di Emeryville, California, menemukan gen AGS3 yang diambil dari inti nukleus, yang bisa menghalangi keinginan orang untuk mengkonsumsi heroin, khsusunya bagi pecandu. Namun, pengaktifan gen tersebut malah menimbulkan efek kecanduan yang baru. Penyebab efek berlebihan dari gen AGS3 tidak diteliti lebih lanjut.


KOMENTAR PEMBACA


ARTIKEL LAIN