EKSKLUSIF
Jelang Miss World 2013 (3)

Pro - Kontra Gelaran Miss World di Indonesia, Apa Kata Mereka?

Pro - Kontra Gelaran Miss World di Indonesia, Apa Kata Mereka?
Kamis, 05 September 2013 10:21 | 

Glenn Fredly


Kapanlagi.com - Pro kontra ajang kecantikan yang diikuti kontestan asal Indonesia masih terus bergema. Padahal keikutsertaan Indonesia dalam event tersebut bukan sekali dua kali. Hingga kini, Indonesia masih saja mengirimkan wakilnya ke event serupa bertaraf internasional kendati belum pernah menjadi pemenang.

Pro kontra tahun ini pun kian memanas saat Indonesia menjadi negara tuan rumah ajang Miss World 2013. Karuan keputusan panitia penyelenggara Media Nusantara Citra menuai protes dari beragam pihak seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), kendati telah digadang-gadang bahwa pada pemilihan kali ini tidak ada sesi bikini.

Bahkan FPI sesumbar akan menggagalkan event bertaraf internasional di Bali tersebut jika masih dihelat. "Semua harus siap bubarkan acara Miss World. Apalagi digelar di Bali, kita juga harus siap sikat acara Miss World, jangan biarkan Bali jadi kota maksiat karena acara itu," ungkap tokoh FPI Habib Rizieq di Markas FPI Petamburan, Jakarta Pusat, Minggu (25/8).

Mereka juga bakal meminta pertanggungjawaban bila Miss World tetap dilanjutkan. Pasalnya event tersebut tidak sesuai dengan budaya ketimuran dan kearifan lokal. "Kalau tetap digelar, kami akan minta pertanggungjawaban pemerintah. Bertentangan dengan budaya, apalagi dengan budaya, apalagi dengan umat Islam, dengan syariat," jelasnya.

Sementara MUI dan HTI senada menyeru agar kegiatan Miss World tidak diteruskan karena tak sesuai dengan ajaran Islam, pun jika sesi bikini dihilangkan. Sebab pada event ini selalu mengedepankan kecantikan dan kemolekan tubuh dengan pakaian ketat.

"Kalau mau menguji IQ silakan bikin kontes IQ. Jangan mengelabui kelompok tertentu bahwa bukan hanya cantik fisik tetapi juga inner beauty," ucap Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri KH Muhyiddin Junaidi di Jakarta, Jumat (24/8).

Bahkan Menteri Agama Suryadharma Ali ingin penyelenggara memperhatikan pernyataan MUI tersebut. Sebab hal ini menyangkut keamanan kontestan yang menjadi tanggung jawab kepolisian. Tapi ia juga berharap agar tak menjadi kontroversi di tengah masyarakat.

"Saya berharap agar tidak ada kontroversi di kita. Kita memerlukan ketenangan," ujarnya di Padang, Kamis (29/8).

Melihat beragam pernyataan kontra, penyelenggara bergeming. Mereka tetap melanjutkan ajang Miss World 2013. Apalagi pihak keamanan yang menurunkan lebih kurang seribu personil telah menjamin selama pelaksanaan berlangsung. Belum lagi keterlibatan pecalang, keamanan adat Bali.

Bahkan Direktur RCTI Syafril Nasution di Denpasar, Bali, Selasa (27/8), menilai apa yang ada selama ini tentang Miss World lantaran kurang sosialisasi. "Ini hanya karena kurangnya informasi saja sehingga kontes Miss World dianggap seperti yang mereka pikirkan. Jangan sampai berpikiran negatif ini akan merugikan negara kita dengan mengobrak abrik budaya," tegas Syafril.

Pun dengan sesi bikini yang selama ini menjadi pembicaraan kontra, menurutnya tidak ada sama sekali. "Pakaian bikini itu tidak akan dilakukan. Bahkan sudah 7 tahun Miss World tidak ada bikini," imbuhnya.

Pro kontra yang menjadi pembicaraan hangat di media ini juga mendapat perhatian kalangan selebritas seperti Tata Liem, Syaharani, Glenn Fredly dan Dessy Ilsanti.

Tata menganggap keikutsertaan Indonesia di ajang kecantikan berkelas internasional sebenarnya sudah lama terjadi walau mendapat tentangan dari berbagai pihak. Namun perlahan tentangan memudar. Apalagi sejumlah kontestan dari Indonesia mulai diperhitungkan.

 

"Kabar gembira pun datang setelah di tahun 2000an Miss Indonesia bisa tampil ikut dan dibolehkan. Dan sampai Artika Sari Dewi pun pernah masuk dalam jajaran 15 besar, dan Maria Elena pun masuk dalam 15 besar nomine. Ini menunjukkan bahwa bangkitnya Beauty, Brain and Behaviour wanita Indonesia di mata dunia," urainya, Senin (2/9).

Sedangkan penyanyi Syaharani berpendapat adanya pro kontra ajang kecantikan di Indonesia sebenarnya terjadi pada beda pandang saja. Kendati ia sendiri tidak mengikuti acara-acara sejenis.

"Pola pandang sih ya. Kalo saya bilang, orang bisa mandang dari sisi ekonomi di Bali. Bisa mandang dari promosi Bali. Kan, ada yang mau menginginkan Bali dikenal di luar segala macem tapi ada yang mau dipandang dari yang lain. Mungkin ada kepercayaan yang tidak sepakat. Saya sendiri gak pernah ikutin acara seperti itu. Saya sukanya nonton acara budaya, musik, kalo gak science," katanya di Taman Ismail Marzuki, Jumat (30/8).

Perempuan bersuara khas ini juga menganggap protes yang dilakukan pihak kontra dengan ajang ini wajar. Sebab aturan yang berlaku adalah hukum negara.

Sementara Glenn Fredly melihat ajang Miss World 2013 yang diadakan di Bali sebagai lahan cari laba pihak penyelenggara. Pun dengan politik. Tapi di sisi lain, event tersebut dapat dijadikan komoditi besar yang menghasilkan devisa.

"Miss World jadi bahan politik di negeri ini. Jadi tarik menarik kepentingan. Saya bicara dalam konteks penyelenggaraan, kalau Miss World sendiri sebagai bentuk salah satu bagian kapitalisasi yang di-created menghasilkan Miss World yang sudah bagian dari komoditi," paparnya di Taman Ismail Marzuki, Jumat (30/8).

Sedangkan Dessy Ilsanti menegaskan jika memberikan dampak manfaat tidak ada salahnya Indonesia mengikuti atau menjadi penyelenggara ajang kecantikan. Bila pun ingin sesi bikini tak ada maka hal tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi setempat.

# Simak seri lain seputar jelang Miss World 2013:

Apa Untungnya Indonesia Jadi Tuan Rumah Miss World?
Kurang Pintar, Indonesia Tak Pernah Menang Ajang Miss World?
Pro - Kontra Gelaran Miss World di Indonesia, Apa Kata Mereka?
Soal Ajang Ratu Kecantikan, Nadine Chandrawinata Angkat Bicara
Pertarungan India - Venezuela Berebut Mahkota Miss World
Seru! 54 Tahun Persaingan Venezuela - India di Ajang Miss World
Bagaimana Penyelenggaraan dan Penilaian Miss World?
Mengintip Kans Indonesia di Ajang Miss World (kpl/pur/dis/dew)


KOMENTAR