![[Review] 'RAYYA: CAHAYA DI ATAS CAHAYA', Perjalanan Kaya Makna [Review] 'RAYYA: CAHAYA DI ATAS CAHAYA', Perjalanan Kaya Makna](http://klimg.com/kapanlagi.com/p/headline/a/476x238/review-rayya-cahaya-di-atas-cahaya-perj-af7fff.jpg)
Road movie adalah jenis film yang jarang dieksplorasi sineas Indonesia. Pemaparan drama dengan elemen seperti ini bisa dihitung jari. Sebut saja 3 HARI UNTUK SELAMANYA besutan Riri Riza, THE BUTTERFLY milik Nayato Fio Nuala atau yang baru saja rilis berjudul MAMA CAKE karya Anggy Umbara.
Kini muncul RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA, sebuah road movie yang sebenarnya sudah akan rilis tahun lalu. Berkisah tentang selebritas bernama Rayya (Titi Sjuman) yang gunakan perjalanan Jakarta - Bali dalam rangka pemotretan buku autobiografi sebagai kamuflase untuk bunuh diri. Dalam perjalanan tersebut Rayya bertemu dengan Arya (Tio Pakusadewo), fotografer idealis yang mampu mengubah sudut pandangnya, mengubah hidupnya.
Well, sungguh menyenangkan menonton film teranyar garapan Viva Westi ini usai terakhir membesut POCONG KELILING tahun 2010 silam. Karena dalam besutan baru tersebut Westi terlihat sangat memberikan hatinya sehingga RAYYA mampu menyentuh siapapun yang menonton. Kisah yang sebenarnya sederhana tadi tersaji penuh muatan lewat rangkaian kata dan gambar yang kadang mampu menampar.
Keelokan bertutur yang terstruktur semakin terasa solid ketika melihat naskah olahan Emha Ainun Nadjib dan Viva Westi. Mereka mampu memberi nyawa lebih dalam film ini lewat dialog yang begitu bernas. Terkesan baku namun konsisten dengan tujuan penggunaan yang bertanggung jawab. Jujur saja meski di awal durasi dialog terlihat sedikit berlebihan, namun usai karakter Rayya dan Arya ini bersinggungan, dialog 'ajaib' tersebut malah membangun filmnya menjadi lebih kaya.
Dan semua unsur di atas tak akan lengkap tanpa kehadiran dua bintang yang membuat RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA semakin bercahaya. Duet Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo mampu membuat film ini mengalir dengan begitu indah dan tak membosankan. Seperti biasa, Titi Sjuman selalu bisa tampil all out. Pun dengan Tio Pakusadewo yang sudah tak perlu lagi diperdebatkan kemampuan aktingnya.
Uniknya, penggunaan film seluloid di saat produksi Indonesia lain memilih ber-digital ria malah semakin membuat RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA menjadi lebih berseni dan sedap di pandang mata. Terlebih dengan lanskap-lanskap delicious yang mampu tertangkap mata Ipung Rachmat syaiful sebagai penata kamera. Bravo,salah satu film Indonesia terbaik rilisan tahun ini.
(kpl/abs)