
Cinemags| Directed by | : | Mike Leigh |
| Starring | : | Sally Hawkins, Eddie Marsan, Alexis Zegerman, Andrea Riseborough, Sinead Matthews, Sylvestra Le Touzel, Samuel Roukin, Karina Fernandez |
| Running Time | : | 118 minutes |
| MPAA rating | : | R |
Bagaimanakah seharusnya kita bersikap dalam memandang hidup dan semakin bermasalahnya dunia sehingga kita tidak merasa terbebani menjalaninya? Apakah dengan menganggapnya terlalu serius atau justru sebaliknya? Permasalahan itulah yang menjadi sorotan utama film asal negeri Ratu Elizabeth ini.
Poppy Cross (Hawkins) adalah seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah dasar. Berbeda dengan kebanyakan golongan seusianya, perempuan berusia awal kepala tiga yang single, naif, gemar memakai pakaian yang kaya warna, entah sesuai atau tidak ini, memiliki sifat yang sangat periang. Ia selalu memperlihatkan gaya easy going-nya, kapan dan dalam situasi apa pun, serta tidak peduli dengan respon orang lain terhadapnya, baik yang sudah mengenal dirinya ataupun orang asing sekalipun. Ia juga tidak ambil pusing dengan pandangan orang lain dan tidak merasa bahwa terkadang orang lain merasa terganggu dengan tingkahnya.
Saking cerianya, ia tidak merasa kehilangan sama sekali saat sepedanya raib dicuri orang dan hanya merasa lebih menyesal karena tidak sempat berpamitan dengan sepedanya itu. Ia juga sering berinteraksi dengan banyak orang yang berbeda karakter dengannya, kala menjalani rutinitasnya sehari-hari.
Meski kesannya nyeleneh dan memandang enteng kehidupan, guru yang sehari-harinya tinggal bersama Zoe (Zegerman); teman lamanya ini - punya dedikasi yang tinggi akan profesinya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik pada anak-anak didiknya, seperti saat menangani permasalahan perlakuan agresif salah satu anak didiknya dengan bantuan seorang pekerja sosial.
Konflik memuncak kala ternyata Poppy memutuskan belajar mengemudi karena ia dipertemukan dengan Scott (Marsan). Celakanya, sang pemandu adalah pria yang bisa dibilang kontra dengan dirinya karena mempunyai sifat dan sikap yang berbanding terbalik. Tidak pelak, hal ini ibarat mempertemukan minyak dengan air. Poppy yang ramah dan ceria serta optimis dipertemukan dengan Scott yang berkarakter kasar, kaku, banyak menggerutu, dan pesimis. Apakah sifat terbuka sang guru ceria ini bakal membawanya pada situasi yang menimbulkan salah paham orang lain terhadapnya atau mendatangkan akibat yang jauh lebih buruk lagi?
Secara garis besar, film yang sukses meraih banyak penghargaan ini memang mengajak penonton untuk melihat Poppy sebagai karakter yang dihadapkan dengan berbagai karakter yang bertolak belakang dengannya. Konfrontasi antarkarakter inilah yang menjadi daya tarik utamanya HAPPY-GO-LUCKY hingga mencapai puncaknya. Mike Leigh sendiri bisa dibilang berhasil menampilkan konfrontasi antarkarakter tadi hingga menjadi sebuah tontonan yang lincah, menghibur, serta mengusik nurani.(Cinemags/roc)
Comment
Bersikap optimis dan easy going dalam menjalani hidup tidaklah salah, namun yang perlu diingat adalah tahu tempat, kapan harus menunjukkannya, dan juga bagaimana 'situasi' lawan bicara yang tengah dihadapi. Jangan sampai hasilnya malah membuat lawan bicara menjadi kesal, menganggap kita sebagai orang yang tidak peka pada keadaan, atau malah mencap kita sebagai orang yang menjengkelkan.
Source: Cinemags, Januari 2012, halaman 94