INSIGHT-HOLLYWOOD

The Heart from Chris Schueler

Sabtu, 05 Februari 2011 12:13  | 

Christopher Reeve


The Heart from Chris Schueler
Chris Schueler





KapanLagi.com - Cinemags

CinemagsCinemags

Film dokumenter selalu berhasil menyadarkan kita akan kenyataan yang tak kita ketahui. Dalam sebuah kesempatan Cinemags berhasil mewawancarai Chris Schueler dari Christopher Productions yang memproduksi banyak film dokumenter untuk televisi. Sejauh ini Chris telah meraih 51 nominasi Emmy dan memenangkan 18. Pria yang ramah asal New Mexico, Amerika Serikat ini juga telah menjadi juri Emmy Awards dan New York Film Festival beberapa kali dan National Broadcast Association of Community Affairs menobatkannya sebagai Innovator of the Year. Sudah banyak film dokumenter untuk televisi yang ia hasilkan dari tema mengenai DATE VIOLENCE sampai kelumpuhan dengan judul CODY. Berikut petikan wawancara Cinemags dengan Chris Schueler.

Chris SchuelerChris Schueler

Apa peran Anda dalam produksi film dokumenter?
Saya memegang banyak jabatan dan menciptakan film dokumenter dari awal sampai akhir. Karena bujetnya yang minim Anda harus bisa melakukan banyak hal. Tapi saya menyewa fotografer dan kru audio serta kru lainnya. Hanya saya mengawasi proyek dari awal sampai akhir.

Sudah berapa lama bekerja di bidang ini?
Sudah 15 tahun dan dimulai dengan membuat dokumenter lokal berdurasi 30 menit di Amerika Serikat dan negara bagian New Mexico. Setelah 3-4 tahun kita membuat dokumenter yang tayang secara nasional di Amerika Serikat. Lima tahun terakhir kita membuat dua dokumenter di Amerika Serikat dan satu dokumenter yang beredar di luar Amerika Serikat.

Apa tantangan dalam membuat film dokumenter?
Selalu ada ide dan isu sosial yang kita ingin tuangkan dalam dokumenter. Tantangannya adalah mencari pendonor dana. Saat ini kita sedang mengembangkan 15 dokumenter dan sepertinya lima akan dibiayai dan akhirnya hanya dua atau tiga saja yang diproduksi. Jadi kita bekerja keras untuk itu.

Ada larangan dari pemerintah?
Di Amerika Serikat tak ada larangan sama sekali. Kita bisa berbuat apa saja. Tapi kadang ketika membuat film di negara lain itu bisa menjadi masalah. Kita syuting di Zimbabwe ketika pemilihan Mugabe dan kita sulit masuk negaranya. Ada wartawan NY Times ditahan dan seminggu setelah insiden itu kita masuk. Kita awalnya ingin masuk dari Botswana dan menyelinap tapi kita langsung ke air terjun Victoria dan meyakinkan pemerintah Zimbabwe bahwa kita tidak membuat film dokumenter politik melainkan mengenai pemanasan global. ada uang yang diberikan. Sebagai produser inilah yang harus saya lakukan.

Apakah dokumenternya Anda rilis di layar lebar dan sudah berapa banyak dokumenter yang Anda buat?
Yang Zimbabwe itu kita rilis di layar lebar tapi kebanyakan program kita rilis di TV dan DVD serta tayang secara regional dan nasional di Amerika Serikat. Saya tidak tahu persis berapa banyak yang saya sudah buat mungkin antara 25 sampai 30 karena kita membuat dua atau tiga setiap tahunnya.

Bagaimana persepsi penonton di Amerika Serikat akan dokumenter?
Kita menghabiskan banyak waktu menentukan siapa penontonnya berdasar dokumenternya sendiri. Maka tergantung penontonnya kita menargetkan mereka dalam distribusi. Salah satu dokumenter kita yang mengenai DATE VIOLENCE ditargetkan pada remaja sehingga kita rilis Jumat malam pada jam prime time. Pada jam itu remaja sebagian besar ada di rumah. Selain itu filmnya akan didistribusikan ke seluruh SMU untuk kelas kesehatan. Untuk masalah pemanasan global, kita ingin pembuat Undang Undang menontonnya maka dokumenternya tayang di PBS karena banyak penonton dan penonton juga sebagai pemegang saham.

"You have got to makes things that are riveting that people want to watch for the entertainment value but then also changed their perception about something."

Apakah Anda menyorot isu politik dalam dokumenter Anda?
Ya, contohnya isu penelitian sel punca. Dokumenter kami mengenai kelumpuhan memiliki tujuan agar penonton paham dan meloloskan legislasi mengenai penelitian sel punca.

Tapi dokumenternya bukan soal itu yang kita buat dan penonton tak akan mau menontonnya kalau begitu. Karena jika mereka tahu itu soal sel punca, mereka tak mau menontonnya. Maka kita mengisahkan kisah seorang gadis muda dan hidupnya. Sel punca adalah bagian dari kisahnya tapi bukan fokus. Seperti acara mengenai pemanasan global, di Amerika, jika Anda penganut politik kanan (Republican) Anda tak percaya pemanasan global terjadi sementara di sisi Demokrat mereka berjuang sekuat tenaga untuk menanggulangi pemanasan global. Maka kita buat dokumenter yang bisa disukai semua orang yakni yang berfokus pada pengambilan karbon di permukaan tanah. Yang menarik ketika kita screening untuk penonton yang 100% pemilih Demokrat mereka menyukainya dan mengatakan; 'Setiap pendukung Republik harus menontonnya'.

Lalu kita screening di Wyoming, kampung halaman Dick Cheney yang memiliki pendukung Republik yang banyak dan mereka malah berkata; 'Ini bagus, pendukung Demokrat harus menontonnya'. Ini bagus sebab kita berada di tengah dan semua orang bisa setuju dengan tema dokumenternya agar masalahnya bisa diketahui.

Di Indonesia dokumenter kurang peminat, bagaimana agar bisa diminati?
Saya mengajari produksi film dokumenter. Saya pikir kecenderungannya adalah film dokumenter harus kering dan tidak menghibur, tapi mendidik. Saya pikir kita mencoba membuat dokumenter yang tidak hanya mendidik tapi juga menghibur karena bagi saya moto perusahaan kami adalah; televisi untuk menyentuh hati, Anda harus membuat hal yang memikat agar orang mau menonton untuk nilai hiburannya tapi juga mampu merubah persepsi mereka. Kalau fokus pada itu maka ada yang akan menonton. Kita harus membuat dokumenter yang akan ditonton orang, jika tak ada yang menontonnya siapa yang peduli? Maka kita ciptakan dokumenter dan untungnya penontonnya banyak. Makanya Emmy itu penting bagi kita, bukan karena itu Emmy dan senang mendapatkannya tapi yang penting adalah dokumenter itu harus menyentuh penonton dan kita ingin ditonton. Maka sponsor akan berdatangan karena kita bisa menjamin sejumlah penonton akan menontonnya.

Chris SchuelerChris Schueler

Pentingkah sebuah dokumenter dinarasikan aktor/aktris terkenal?
Tergantung dokumenternya. Kita tak menggunakan narasi di sebagian besar dokumenter kita. Saya suka jika subyeknya menceritakan kisahnya sehingga kita tak butuh narasi. Tapi dua dokumenter terakhir saya memakai narasi. Untuk dokumenter pemanasan global kita sempat mempertimbangkan akan memakai Al Gore yang sukses dengan INCONVENIENT TRUTH dan kita tak mau menggunakannya sebab kalau memakai Al Gore maka kaum Republik tak mau menontonnya.

Akhirnya kita tak memakai satu pun nama terkenal. Untuk CODY kita mau penonton yang lebih banyak dan dewasa. Awalnya kita mendapatkan Paul Newman tapi ia sakit dan tak bisa lalu Glenn Close mau menjadi narator karena ia temannya Christopher Reeve, dan CODY (subjek dokumenter ini) juga teman Christopher Reeve.

Menurut kami itu bagus, apakah itu membantu? Saya tak yakin. Dalam hal tertentu itu membuka pintu dan kita bisa ke PBS Network dan mengatakan bahwa kita punya Glenn Close sebagai narator. Itu bisa membuka pintu dan jika Anda butuh itu, itu penting. Tapi sebenarnya jika ceritanya bagus saya tak mau itu soal Glenn Close tapi mengenai topiknya. Itulah kelemahan memakai nama terkenal. (Cinemags/roc)

Source: Cinemags, November 2010, halaman 140