INSIGHT-HOLLYWOOD

The Last Airbender 3D, The Worst Scenario to Finish Summer Hype

Rabu, 17 November 2010 12:13 | 

M Night Shyamalan




KapanLagi.com - Cinemags

Cinemags

Tidak dapat dipungkiri bahwa serial animasi AVATAR: THE LAST AIRBENDER merupakan salah satu serial animasi yang paling banyak dibicarakan orang dalam beberapa tahun terakhir. Serial animasi ini dianggap menyajikan sebuah tontonan yang sangat menghibur dengan pesan moral yang kuat. Dan saat proyek adaptasi didengungkan, semua orang sangat penasaran bagaimana visualisasi dari dunia Avatar dalam bentuk live action. Namun saat mendengar nama M Night Shyamalan yang menjadi sutradaranya, keraguan pun mengemuka, dan saat film ditayangkan, ternyata apa yang paling ditakutkan pun menjadi kenyataan.

Selisih rilis lebih dari sebulan dengan Amerika Serikat cukup memberikan referensi bagaimana kualitas dari THE LAST AIRBENDER di pandangan mata publik Internasional. Berbagai kritikan tajam yang dialamatkan ke film debut aktor Noah Ringer ini membuat ekspektasi sedikit menurun, dan berusaha untuk tetap menyematkan asa bahwa para penonton di luar menilai terlalu berlebihan. Ternyata, ekspektasi rendah saja tidak cukup untuk membuat rasa kecewa saat keluar bioskop menjadi berkurang.

Film berbujet US$150 juta ini dibuka dengan cukup memuaskan, di mana adegan pengenalan elemen yang ada dalam versi animasinya kembali dimunculkan. Namun setelah itu, berbagai kekecewaan pun mulai merebak. Satu-satunya yang dirasa menghibur adalah efek bending yang cukup memanjakan mata, khususnya untuk waterbending. Perubahan konsep bending menjadi lebih realistis, di mana para Firebender juga harus memiliki api di sekitar mereka merupakan poin lebih yang dapat dikatakan sebagai 'koreksi' dari serialnya.

The Last Airbender

Sayang, durasi 103 menit gagal menyampaikan dengan baik alunan kisah yang ada dalam 400 menitan (20 episode) dari serial animasinya untuk season pertama. Durasi yang terasa 'terlalu singkat' ini membuat kisah yang ada dituturkan secara terburu-buru tanpa memberikan berkembang. Hal ini juga memunculkan begitu banyak plot hole yang sangat mengganggu, dan dapat membuat bingung penonton yang tidak mengikuti animasinya. Salah satunya adalah bagaimana cara Sokka dan Katara membawa Aang dan Appa kembali ke desa mereka?

Karakter Appa dan Momo sendiri hanya menjadi penghias. Mereka tidak dilibatkan secara langsung dalam berbagai kejadian yang ada. Untunglah para penonton masih, dapat mendengar ucapan Yip Yip yang menjadi salah satu ciri khas serialnya. Perubahan karakter Aang yang merupakan seorang anak polos dan ceria menjadi anak depresi karena menyandang statusnya sebagai Avatar dan apa yang telah terjadi pada masa lalu terasa sangat mengganggu, karena keceriaan dan kepolosan dari Aang lah yang merupakan salah satu daya tarik utama dari serial animasinya.

Akting para pemain pun jauh di bawah rata-rata. Hampir seluruhnya menampilkan ekspresi yang datar tanpa emosi, bahkan chemistry antar pemain tidak terasa sama sekali. Untunglah adegan pertempuran di Nothern Water Tribe yang berdurasi cukup panjang dan menampilkan begitu banyak adegan bending, sedikit menaikkan tensi ketegangan yang ada. Tapi, di sini lah begitu banyak 'kekonyolan' dari para bender saat akan menyerang semakin terasa. Banyaknya gerakan yang dilakukan untuk menghasilkan bender yang tidak seberapa dahsyat benar-benar sangat mengganggu. Mungkin apabila para bender bertarung dengan orang awam bersenjata, mereka sudah ditusuk saat sedang sibuk 'menari'.

Tidak afdol rasanya menyaksikan film 3D tanpa mengomentari kualitas dari 3D-nya. Dan THE LAST AIRBENDER semakin memperpanjang daftar film yang memasang embel-embel 3D hanya sebagai alat promosi, karena tidak ada efek 3D apapun yang dapat dirasakan sepanjang film berlangsung. Tidak ada ruang yang terbentuk ataupun gambar yang keluar dari layar. Tercatat, hingga saat ini belum ada film 3D hasil konversi yang memuaskan. Akankan HP7 yang juga merupakan hasil konversi bernasib sama?(Cinemags/roc)

Source: Cinemags, Oktober 2010, halaman 30




    KIRIM KOMENTAR

    Twit komentar kamu
    Nama
    Email
    Komentar
     

    Komentar Pembaca (0)