
Dia menemukan, banyak sekali tema-tema muslim dalam film yang diikutsertakan. "Tema muslim tidak lagi di Timur Tengah saja. Tapi juga mulai diangkat oleh negara-negara Eropa seperti Turki dan Pakistan," ujarnya.
Berangkat dari situ, Garin sempat ngobrol dengan beberapa sutradara. Dan akhirnya, mereka bersepakat untuk berkolaborasi menggarap sebuah film tentang Islam. Kolaborasi itu mereka sebut omnibus. "Itu istilah kolaborasi antar sutradara," ujar Garin.
Akan ada lima sutradara yang ikut. Semuanya dari negara Islam. Yaitu Afganistan, Iran, Malaysia, Indonesia, dan Palestina. Khusus untuk Afganistan, Sidiq, sang sutradara memenangi Golden Globe untuk kategori Best Foreign Film, lewat filmnya yang bertajuk Osama.
Menurut Garin, tujuan utama di bentuknya Omnibus adalah untuk menunjukkan betapa pruralnya masyarakat Islam di dunia. "Kita memiliki kebudayaan sendiri. Begitu juga dengan Malaysia, Iran, atau Afganistan. Nah, itu yang ingin kita angkat," terangnya.
Nantinya, masing-masing sutradara itu akan membuat film yang berdurasi sekitar 25-35 menitan. Kemudian, kelima film tersebut akan digabung, sehingga membentuk sebuah film panjang. "Semoga tahun ini juga bisa terealisasi," ungkap Garin. Apakah nantinya akan ikut festival? Ditanya begitu, Garin langsung tertawa. "Ya, kita lihat saja nanti," ujar sutradara film Surat untuk Bidadari dan Bulan Tertusuk Ilalang ini.
Di Festival Film Berlin, tercatat sudah enam film Garin yang masuk. Tahun lalu, dia sempat mendapat penghargaan Special Mention dari NETPAC Prize untuk film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. NETPAC Prize merupakan penghargaan yang diberikan oleh Aliansi Organizer Festival dan Kritik Film Internasional yang bertujuan mendukung promosi film Asia di dunia internasional (dst/erl)
Lihat Profil: Garin Nugroho