"Bukan hanya `WorldHelp` tapi juga semua pihak yang menjadi `penadah` anak-anak malang itu, harus diusir dari bumi Indonesia," kata Ketua Umum FUUI KH Athian Ali M Dai, di Bandung, Senin.
Athian Ali menjelaskan ketika berada di tengah wilayah bencana di NAD, menahan air mata terhitung cukup sulit namun tiba-tiba saja WorldHelp muncul dengan misi pemurtadan, hal ini sangat menyakitkan umat Islam.
Menurut dia, pihaknya telah memiliki cukup informasi mengenai keberadaan anak-anak Aceh di Jakarta yang telah dilarikan WorldHelp. Bahkan `Washington Post` dan Telegraph` secara gamblang menyatakan bahwa anak-anak Aceh oitu bukan `akan` tapi `telah` dilarikan ke Jakarta.
Selain itu, dikatakan, Tim Investigasi Divisi Anti Pemurtadan (DAP) FUUI telah pula menemukan beberapa titik yang `feasible; menjadi jaringan `WorldHelp` di Jakarta.
Oleh karena itu, FUUI menghimbau kepada pemerintah agar secepatnya mengambil anak-anak Aceh dari tangan-tangan WorldHelp di Jakarta, dan mengembalikannya ke Aceh atau mempercayakannya kepada pihak muslim.
"Bilamana tidak berarti pemerintah mengizinkan umat Islam untuk segera mengambil tindakan sendiri," tandasnya.
Umat Islam sendiri tidak akan tinggal diam menghadapi pemurtadan, serta bilamana akhirnya anak-anak Aceh ini harus diurus di Bandung, maka FUUI telah menyiapkan para orang tua asuh dan pesantren yang siap mengurus 522 anak.
Di bagian lain, FUUI juga mengeluarkan maklumat agar seluruh umat Islam wajib membantu muslim Aceh korban gempa bumi dan tsunami sesuai kemampuan yang ada, sebagai wujud solidaritas dan sebagai upaya preventif untuk mencegah pemurtadan.
Serta bagi umat Islam yang pada tahun ini melaksanakan `Qurban` hendaknya mengkonversi rencananya menjadi bantuan bagi muslimin Aceh.
"Juga, mengingatkan pemerintah RI bahwa penanganan korban gempa bumi dan tsunami di Aceh hendaknya dilakukan secara optimal dan bersungguh-sungguh," demikian KH Athian Ali M Dai. (*/dar)