"Kita siap menjadi `anchor bank` begitu Bank Indonesia (BI) mengumumkan masalah itu," kata Direktur Utama BRI Rudjito usai peluncuran buku Bank BRI Keluar dari Krisis dari Restrukturisasi sampai IPO di Jakarta, Selasa (25/1).
Ia menyebutkan, BRI siap menjadi "anchor bank" dilihat dari kinerja BRI selama empat tahun terakhir, termasuk dari sisi permodalan (CAR) yang mencapai 19%, tingkat keuntungan, dan faktor lainnya.
"Dengan kondisi seperti ini, BRI mempunyai kemampuan menjadi `anchor bank`," katanya.
Apalagi dari sisi pengaturan, katanya, BI juga sudah menghapus aturan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) untuk sektor perbankan, sehingga tidak ada hambatan lagi dalam masalah BMPK.
"Masalah BMPK tidak ada lagi, sehingga terbuka luas bagi bank untuk mengakuisisi bank lain. Ini juga memberi kesempatan luas kepada bank mana pun untuk merger dengan bank lain, sehingga tujuan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk membuat perbankan Indonesia kuat dan dapat bersaing dapat terlaksana," katanya.
Ketika ditanya bank mana saja yang akan diajak bergabung ke BRI, Rudjito mengatakan, pihaknya belum sampai pada tahap itu.
"Yang jelas, bank itu harus sesuai dengan fokus usaha BRI, atau bank yang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh BRI seperti dalam bidang funding atau teknologi," katanya.
Ia menyebutkan, pihaknya akan mencari bank yang dapat mendukung BRI menjadi bank yang kuat.
"Kita belum sampai kepada bank-bank mana saja, kita harus mencari tahu dulu bagaimana kondisi masing-masing bank," katanya.
Ketika ditanya insentif seperti apa yang diharapkan BRI dari BI, Rudjito mengatakan, BI tidak perlu memberikan insentif apapun agar bank-bank melakukan merger.
"Insentif yang diharapkan dari BI cukup aturan main yang jelas dan sama untuk semua bank," kata Rudjito. (*/dar)