Direktur Indofood Sukses Makmur, Franky Welirang, Kamis, menjelaskan, kapal-kapal yang akan dibeli itu diantaranya satu buah kapal pengangkut gandum impor dan satu atau dua kapal lain dengan ukuran lebih kecil untuk menambah armada inter insuler distribusi produk.
Tanpa menyebutkan angka mengenai jumlah belanja modal grup Indofood tahun 2005, Franky mengutarakan tarif angkutan laut dewasa ini sudah sangat tinggi sehingga cukup membebani harga pokok produksi.
Karena mempertimbangkan waktu yang cukup lama yakni sekitar dua tahun untuk pengadaan kapal baru, maka Indofood dalam rencananya itu akan membeli kapal bekas, katanya.
Ia mengemukakan, belanja modal bagi PT Indofood dan sejumlah perusahaan afliasinya untuk tahun 2005 disusun berdasarkan kebutuhan dan pertumbuhan organik di masing-masing divisi perusahaan.
Untuk divisi perkebunan misalnya, hampir 80% areal perkebunan yang sudah ditanami dan diusahakan oleh perusahaan saat ini sudah mempunyai usia yang `mature` (dewasa) sehingga sudah memberikan tingkat produktivitas yang optimal.
Oleh karena itu, tambahnya, divisi perkebunan juga memerlukan perluasan areal untuk mempertahankan pertumbuhan produksi yang berkelanjutan. Potensi perluasan areal perkebunan, berdasarkan survey yang dilakukan perusahaan antara lain terdapat di Propinsi Riau dan Kalimantan Barat.
Untuk itu, divisi perkebunan PT Indofood juga sudah menyusun rencana perluasan dan melakukan upaya-upaya awal untuk bisa merealisir rencana tersebut. "Namun saya tidak mengingat persis betapa perkiraan nilai investasinya maupun tahap realisasinya sekalipun hal itu juga memang harus dikoordinasikan dengan manajemen induk perusahaan," katanya.
Salah satu konsentrasi PT Indofood dalam tahun 2005 adalah meningkatkan produktivitas dan efisiensi di divisi distribusi yang meliputi upaya untuk meningkatkan sinergi PT Indo Marco, sebuah anak perusahaan yang menangani hampir 95% fungsi distribusi produki-produk Indofood.
Selain itu, ujar Franky, upaya efisiensi akan terus dilanjutkan di divisi mi instant antara lain dengan mengkonversi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi gas dalam proses produksi.
Ia menjelaskan, penggunaan BBM untuk mengoperasikan `burner` dan `boiler` mempunyai porsi yang cukup besar dalam biaya produksi mi instant. Upaya konversi BBM menjadi gas ini merupakan kelanjutan dari upaya serupa yang sudah dilakukan tahun-tahun lalu guna meningkatkan efisiensi ditengah-tengah persaiangan yang semakin ketat di industri mi instant.
Target
Untuk tahun 2005, PT Indofood menargetkan pertumbuhan pendapatan 5 hingga 10% dibandingkan tahun 2004.
Tanpa memberikan sesuatu angka yang konkrit, Franky mengutarakan realisasi pendapatan konsolidasi tahun 2004 mencatat pertumbuhan sekitar 3 sampai 4% dibandingkan tahun 2003. Berdasarkan data dari PT Bursa Efek Jakarta (BEJ), selama sembilan bulan pertama 2004, Indofood membukukan nilai pendapatan sebesar Rp13,087 triliun dengan laba operasi sebesar Rp1,545 triliun dan laba bersih Rp285 miliar.
Franky mengutarakan, divisi mi instant relatif tidak akan memberikan kontribusi bagi pertumbuhanf pendaptan mengingat ketatnya persaingan di industri tersebut. Divisi yang memberikan kontribusi utama bagi pertumbuhan ini antara lain adalah divisi tepung terigu, minyak goreng, makanan bayi (baby food), snack food, dan bumbu penyedap.
Perusahaan, menurut Franky, akan mengurangi kegiatan perdagangan minyak sawit mentah (CPO) dan mengalihkannya pada produk konsumen yang memberikan nilai tambah yang lebih besar seperti minyak goreng dalam kemasan.
Di sisi lain, perusahaan juga akan terus megembangkan produk baru di divisi bumbu penyedap dan meningkatkan kualitas mi instant, demikian Franky Welirang. (*/rit)