Dalam sambutannya pada upacara wisuda lulusan program diploma UGM periode tahun akademis 2004-2005, Sabtu, ia menyebutkan segitiga Asia yang terdiri atas sub Benua India dan Cina di sebelah utara dan Asean di selatan yang penduduknya hampir setengah dari seluruh penduduk dunia, dalam waktu 20 tahun hingga 25 tahun ke depan, akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Menurut dia, India mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam industri teknologi informasi, sedangkan Cina mengalami kemajuan luar biasa dalam industri dasar dan otomotif.
Arus perdagangan antara kedua pusat pertumbuhan baru itu dengan negara-negara Eropa dan Benua Eropa, akan mengalami peningkatan yang sangat cepat, sehingga memerlukan kapasitas transportasi laut yang lebih besar melalui jalur-jalur samudera luas dengan kapal-kapal kontainer raksasa.
"Negara kita terletak tepat di ujung negara-negara Asean yang memiliki kawasan maritim yang diperlukan untuk jalur pelayaran samudera tersebut," katanya. Dalam konstelasi geo-ekonomi baru itu, menurut Sofian, peluang Indonesia khususnya kawasan di sepanjang pantai Samudera Indonesia mulai dari Anyer sampai Mataram di selatan dan Bitung di utara, dapat tumbuh menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru di kawasan Asean.
"Kita sebagai bangsa seharusnya dapat memanfaatkan peluang yang sangat baik itu. Namun, semuanya sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh bangsa termasuk lulusan perguruan tinggi," tandas dia.
Tetapi, menurut Rektor UGM, negara maju terutama negara adikuasa satu-satunya yang sedang berjaya, pasti tidak akan membiarkan peluang itu terjadi. "Berbagai upaya akan digunakan untuk menghambat, bahkan menjegal kemajuan negara-negara berkembang," sambungnya.
Lulusan program diploma UGM yang diwisuda tersebut sebanyak 700 orang, terdiri 357 lulusan bidang eksakta dan 343 non eksakta. (*/rit)