< >

Pendidikan Diniyah Nonformal di Aceh Melemah

Rabu, 23 Februari 2005 19:06
Kapanlagi.com - Pendidikan diniyah (agama Islam) di munasah-munasah (surau) yang vakum karena berbagai keadaan yang menekan menyebabkan kualitas beragama di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) melemah.

Melemahnya kualitas beragama dapat dilihat dari fakta banyaknya orang yang tidak melaksanakan sholat sekalipun adzan dikumandangkan untuk memanggil umat mendirikan kewajiban itu, kata Hasbuh, salah seorang dosen di Universitas Syiah Kuala di Darussalam, Rabu (23/02).

Ia mengakui paska tsunami ini banyak sekali anak-anak remaja dan yang dewasa bahkan orang tua tidak melaksanakan sholat yang menjadi tiang agama dalam Islam.

"Ini antara lain terlihat di kamp-kamp pengungsi. Hanya relawan dan sejumlah pengungsi saja yang melaksanakan sholat lima waktu dengan tertib, selebihnya mengabaikannya," katanya.

Di Masjid Darussalam, yang berkapasitas tampung lebih 3.000 orang, hanya sekitar dua shaf (baris) yang terisi, atau kurang lebih 200 orang. Pada waktu Sholat Subuh, shof yang terisi tidak sampai dua shof, padahal di bawah masjid dan halamannya terdapat posko pengungsi yang dihuni kurang lebih seribu orang.

Mereka yang tadinya tidur di ruang sholat di lantai dua turun ke bawah begitu adzan Shubuh dikumandangkan dan meneruskan tidur mereka di ruang-urang sempit pengungsi atau dia tenda-tenda di halaman masjid yang cukup luas itu.

Sholat, sambungnya, adalah tiang agama, dan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad S.A.W. dinyatakan bahwa siapa yang mendirikan (melaksanakan) sholat berarti mendirikan tiang agama, sedang yang tidak sholat meruntuhkan agama. Dalam hadits lainnya disebutkan pula bahwa orang yang menunaikan sholat itu adalah seorang muslim, sedang yang tidak menunaikan sholat adalah orang kafir (ingkar).

Sholat, menurut hasbuh, merupakan cara peribadahan menyembah Allah lima kali setiap hari, dapat menegah seseorang berbuat keji dan mungkar (buruk) seperti dinyatakan Allah dalam Al-Qur`anul Karim apabila orang mengerjakannya dengan baik dan merealisasikan apa yang dinyatakannya dalam sholat.

Azwar, yang juga seorang dosen di Unsyiah, mengakui Aceh, sebagai satu-satunya daerah yang menjalankan Syariat Islam, kualitas beragama penduduknya kini menurun.

Menurunnya kualitas itu karena tidak ada penghayatan terhadap agama itu, dan akibatnya mereka merasa biasa-biasa saja meninggalkan sholat tanpa merasa suatu membuat suatu kekeliruan.

DOM Hasbuh, yang sangat prihatin melihat keadaan masyarakat daerahnya, yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami yang menewaskan dan menghilangkan lebiah 200 ribu penduduknya, mengatakan menurunnya kualitas beragama di kalangan masyarakat Aceh karena melemahanya pendidikan non-formal diniyah di munasah-munasah di seluruh Aceh.

Dahulu, katanya, anak-anak ramai mengaji dan mendalami Islam di dalam munasah-munasah itu. Tetapi setelah diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) 1989-1999, munasah-munasah itu sepi ditinggalkan anak-anak dan pemuda muslim, termasuk para orang tua dan teungku-teungku (ulama).

"Mereka takut mengaji dan mendalami Islam di munasah-munasah, karena selain menjadi sasaran tembak antara GAM, gerakan separatis Aeh, dan ABRI, mereka juga takut dicurigai oleh kedua belah pihak dan menembak mereka," katanya.

Mereka (anak-anak dan teungku-teungku) itu takut selain menjadi sasaran tembak, juga karena jauhnya munasah-munasah itu. Munasah-munasah itu menjadi sepi, tak diisi lagi oleh mereka, dan ini mengakibatkan mereka tidak tahu agama atau sangat dangkal pengertiannya terhadap agama, apalagi menghayatinya.

Keadaan tersebut berjalan sekalipun DOM telah berlalu, orang dewasa dan yang sudah tua kini sejak diberlakukannya DOM hanya memiliki pengetahuan agama yang sangat sedikit.

Jadi dapat dimaklumi bahwa sekalipun Aceh memiliki Syariat Islam, tetapi kesadaran untuk melaksanakan tidak ada karena tidak atau kurang penghayatannya terhadap agama yang dipeluknya selama ini. (*/lpk)