< >

Sembilan Penyelundup Obat Terlarang Mati Ditembak

Minggu, 06 Maret 2005 16:17
Kapanlagi.com - Sembilan penyelundup obat terlarang mati ditembak dalam tiga insiden terpisah di utara Thailand, kata polisi hari Sabtu setelah perdana menteri Thailand berjanji akan melanjutkan sikap keras anti-narkobanya.

Dalam penyerbuan pertama Jumat sore, tiga orang -- seorang warga Thailand dan dua warga Myanmar -- ditembak mati polisi di kota perbatasan Mae Sot di propinsi Tak, yang berbatasan dengan Myanmar, kata deputi inspektur polisi kota Mae Sot.

"Ini operasi `sengat` oleh polisi anti-Narkoba. Mereka mati akibat tembakan yang diarahkan ke sisi perbatasan Thailand," ujar Letkol Anuwat Suwanohum kepada kantor berita AFP, dan menambahkan bahwa polisi menyita 60.000 tablet methamphetamine.

Sabtu pagi, empat anggota kelompok minoritas etnis Wa tewas saat dua tersangka meninggalkan tempat itu di distrik Sansai, Chiang Mai, kata komandan kawasan utara Letjen Panupong Singhara na Ayutthaya.

Polisi menyita 100.000 tablet methaphetamine dari para korban yang juga akan membeli saat operasi itu berlangsung.

"Penyerbuan dilakukan pagi hari sekitar pukul 5:00 dan berlangsung selama lima menit, kata Panupong, dan menambahkan bahwa serangan itu melibatkan 12 polisi, yang menhadapi enam penyelundup.

Di propinsi Mae Hong Son, yang juga berbatasan dengan Myanmar, delapan tersangka penyelundup narkoba terlibat dalam bentrokan senjata selama 20 menit dengan patroli militer di distrik Pang Mapha Jumat malam, kata polisi distrik.

Dua mayat tersangka yang diyakini sebagai anggota kelompok etnis Thai Yai ditemukan hari Sabtu bersama dua senjata AK-47 dan tiga geranat tangan.

"Pihak berwenang juga menyita heroin seberat 8 kilogram dan 29 tablet methaphetamine," kata seorang polisi distrik kepada polisi.

Penyerbuan itu terjadi ketika PM Thaksin Shinawatra berjanji dalam pidato radio mingguannya bahwa ia akan memegang sikap keras anti-narkobanya selama periode kedua jabatannya.

"Saya akan menghadapi masalah ini sedapat mungkin dan langkah anti-obat terlarang yang saya terapkan tidak akan menurun dalam agenda pemerintah untuk empat tahun mendatang," ujar dia.

"Perang terhadap obat terlarang" 2002 oleh Thaksin telah membuat sedikitnya 2.500 orang meninggal dan menimbulkan tuduhan dari kelompok hak asasi manusia.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa sikap Thaksin itu didukung banyak rakyat Thailand, yang prihatin atas wabah kecanduan obat terlarang akibat murahnya harga methaphetamine, yang di Thailand dikenal sebagai "yaaba" atau "obat gila." (*/lpk)