"Alasan disisakannya hanya dua kapal perang itu karena Malaysia juga hanya menyisakan dua kapal perang saja," kata Sosialisman kepada ANTARA di Pos TNI AL Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, Selasa pagi.
Sebelumnya, di kawasan perairan Ambalat, terdapat tujuh kapal perang milik TNI AL dan saat ini lima di antaranya telah ditarik dari perairan tersebut.
Mengenai pelanggaran wilayah yang dilakukan Ankatan Laut Malaysia, Sosialisman mengatakan, mereka (AL Malaysia) memang sering "mengejek" Indonesia dalam kegiatan patroli. "Sejak saya muda, hal itu sudah sering terjadi," katanya.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa pagi, tiba di Pos TNI AL Pulau Sebatik untuk melihat prajurit TNI dan Polisi Airud yang bertugas di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut.
Menjelang kunjungan Presiden Yudhoyono, prajurit marinir mempersiapkan persenjataan dan pos-pos pertahanan yang terbuat dari pasir, membangun menara penjagaan. Kota Tawau di negara bagian Sabah hanya terletak sekitar 8 Km ke arah utara dari lokasi tersebut.
Pada saat gladi resik pengamanan Presiden dilaksanakan di pos marinir dan pos polisi Airud, satu pesawat kepolisian Malaysia melintas dalam ketinggian sangat dekat hingga ke daratan kota kecamatan Sebatik.
Beberapa personil marinir mengatakan, pesawat itu melintas berkali-kali pada saat gladi resik pengamanan presiden tengah dilaksanakan.
Sejumlah anggota pasukan marinir dan Paspampres mengatakan, mereka hanya memberikan isyarat agar menjauh, dan merekam pesawat itu. Dengan demikian, Malaysia sudah 4 kali melanggar kedaulatan RI. (*/rit)