"Guru itu akan menambah jumlah guru di sekolah darurat kami menjadi 80 orang dan mereka difokuskan untuk membantu pelajar SMP dan SMU mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir pada bulan Mei," kata Kepala Humas PT HM Sampoerna, Niken Rachmad di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan, guru yang dipilih sebisa mungkin adalah orang asli Aceh, baik yang tinggal di sana maupun di luar Provinsi NAD.
"Kami memilih orang asli Aceh karena berdasarkan pantauan kami, mereka akan lebih mudah diterima oleh anak-anak itu," katanya.
Ia mengakui ada beberapa kendala yang dihadapi oleh mereka dalam mendirikan dan menjalankan sekolah darurat tersebut.
Kendala tersulit yang mereka hadapi adalah dalam mengembalikan kepercayaan diri para murid dan keinginan mereka untuk bersekolah.
"Mereka sering mempertanyakan untuk apa mereka sekolah kembali sementara semua yang mereka miliki telah musnah," katanya.
Untuk itu, ia mengatakan, guru yang dikirim adalah mereka yang memiliki komitmen tinggi dalam mengajar anak-anak korban bencana tsunami itu dan akan dibekali pengetahuan psikologi untuk mengangkat kembali semangat mereka.
Kesulitan lain yang dihadapi adalah sekolah darurat yang terletak di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie, Bireun dan Aceh Utara tersebut, tidak selalu bisa didirikan dekat dengan tempat penampungan pengungsi sementara sehingga cukup sulit dicapai oleh mereka yang ingin belajar.
"Untuk itu kami akan mendirikan beberapa sekolah darurat lagi, tentunya berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional dan Unicef sehingga tidak tumpang tindih," Niken menjelaskan.
Hal terpenting yang saat ini dibutuhkan oleh anak sekolah di Aceh, menurut dia adalah buku pelajaran dan bacaan bermanfaat lainnya.
"Tanpa gedung atau tenda, mereka masih bisa belajar, tapi tanpa buku, apa yang bisa mereka pelajari," ujarnya.
Program selanjutnya yang akan dilaksanakan mereka adalah rehabilitasi gedung sekolah yang akan dimulai pada Juni 2005.
"Setidaknya tiga gedung sekolah di daerah yang paling membutuhkan akan kami rehabilitasi dengan dana 100.000 hingga 150.000 dolar AS per gedungnya," kata Niken.
Ia berharap semua bantuan pendidikan yang diberikan dapat membantu memulihkan fisik dan mental rakyat Aceh, terutama anak-anak, karena mereka adalah masa depan Indonesia, khususnya Aceh. (*/lpk)