Staf penerangan UNICEF, Lely Djauhari, kepada pers di Banda Aceh, Kamis, mengatakan kerusakan sarana pendidikan di wilayah kepulauan itu diketahui melalui suatu pengkajian yang dilakukannya setelah bencana tsunami meluluh lantakkan sebagian wilayah pesisir barat Aceh.
Pulau Simeulue yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat gempa yang berkekuatan 8,9 pada skala Richter yang disusul dengan bencana tsunami dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, termasuk hancurnya sekitar 80% bangunan sekolah. Untuk menbantu kelancaran kegiatan belajar dan mengajar di kawasan Pulau Simeulue, Pihak UNICEF menirimkan 350 paket peralatan sekolah dan bahan pendidikan lainnya ke wilayah kepulauan itu dan sampai kini sebanyak 27.000 pelajar telah menerima bahan pendidikan dasar untuk kebutuhan selama satu bulan. "UNICEF bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk memulai kehadiran permanen di pulau tersebut," jelas Lely.
Dia mnambahkan, dalam jangka waktu 2,5 bulan pasca terjadinya musibah bencana alam di Aceh, UNICEF telah menyediakan bahan pendidikan dasar bagi 240.000 anak sekolah dasar selama satu bulan. Sementara itu, berdasarkan data terakhir yang dikumpulkan UNICEF, terdapat sebanyak 2.499 guru permanen yang meninggal dunia dalam bencana alam tsunami. Jumlah ini lebih besar dari perkiraan awal sebesar 600 jiwa guru.
"Kami juga memperoleh data terakhir jumlah anak-anak yang mengikuti pelayanan di 17 pusat anak yakni sebanyak 8.316 anak dari sekitar 50 ribu jiwa pengungsi di enam kabupaten di seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam," katanya. (*/lpk)