< >

Musim Tanam 2005/2006, PTPN XI Siapkan Kebun Bibit Tebu 2.434 Hektar

Jum'at, 11 Maret 2005 14:33
Kapanlagi.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI menyiapkan kebun bibit tanaman tebu seluas 2.434 hektar yang rencananya akan dikembangkan pada lahan pengusahaan tebu seluas 17.000 hektar pada musim tanam 2005/2006 mendatang.

Corporate Secretary PTPN XI Adig Suwandi yang dihubungi di Surabaya, Jumat, mengatakan lahan kebun bibit tersebar di 16 wilayah kerja pabrik gula milik PTPN XI dan terdiri dari 1.752 hektar diselenggarakan perusahaan dan sisanya berasal dari bagian program pemerintah (Deptan) melalui alokasi APBN.

"Bibit tebu rencananya akan ditanam pada lahan bongkaran keprasan lanjut (ratoon) yang sebagian besar milik petani. Ini salah upaya PTPN XI untuk peningkatan produktivitas melalui penyediaan varitas bibit unggul," ujarnya.

Menurut Adig, varitas atau jenis tebu yang dipilih mengacu pada hasil-hasil penelitian dan uji lapangan, sesuai kondisi agro-ekosistem wilayah masing-masing pabrik gula.

"Di kebun bibit tersebut terdapat varietas unggul hasil introduksi dari luar negeri dan rakitan lokal Indonesia," tambahnya.

Lahan kebun bibit tahun ini lebih luas dari tahun sebelumnya. Pada musim tanam 2004/2005, luas kebun bibit sekitar 2.011 hektar yang terdiri 1.030 hektar diusahakan perusahaan dan 981 hektar pembiayaannya dari program pemerintah.

Adig Suwandi menambahkan perbaikan bibit secara bertahap diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hingga sekurang-kurangnya mencapai 8,5 ton gula per hektar pada tahun 2008. Saat ini, harga bibit sekitar Rp1,5 juta untuk setiap hektar tertanam.

"Sebagian petani tebu beranggapan harga bibit masih sangat mahal sehingga mereka enggan melakukan rehabilitasi tanaman. Karena itu, PTPN XI melakukan terobosan melalui program `Tebu Rakyat Kerjasama`," katanya.

Mekanisme dari program tersebut, pada tahun pertama lahan diserahkan pabrik gula untuk ditanami tebu dan sebagai kompensasi, petani mendapatkan imbalan penggunaan lahan.

Setelah tanaman tebu tahun pertama ditebang, keprasannya diserahkan kepada petani pemilik lahan sehingga mereka mendapatkan benefit berupa tanaman keprasan yang bibitnya dari varietas unggul.

Adig mengatakan program rehabilitasi tanaman tebu sudah dilakukan PTPN XI dan petani sejak tiga tahun terakhir. Selain itu, juga dilakukan peningkatan mutu intensifikasi budidaya dan manajemen tebang angkut mengacu pada keberhasilan teknologi pascapanen.

"Tanpa rehabilitasi tanaman, upaya peningkatan daya saing dalam industri gula tidak akan terwujud, sehingga penggunaan bibit unggul harus disosialisasikan secara terus menerus karena bibit merupakan investasi tanaman yang tidak bisa dihindari," ujarnya. (*/erl)