Deputi Perwakilan Dagang AS Josette Shiner membuat pernyataan kepada deputi Menteri luar Negeri Jepang Mitoji Yabunaka selama konsultasi bilateral tingkat tinggi reguler mengenai reformasi peraturan, di mana meliputi seputar masalah tersebut, termasuk rencana privatisasi postal Jepang, kata pejabat itu.
Shiner nampaknya melihat terhadap tekanan politik yang semakin berkembang di Amerika Serikat seputar masalah tersebut, dengan beberapa pembuat kebijakan menyerukan untuk pengenaan sanksi ekonomi jika Jepang gagal secara cepat mencabut larangan yang dikenakan sejak Desember 2003, pada saat ditemukan kasus penyakit sapi gila pertama di negara bagian Amerika Serikat---dan sejauh ini hanya ---kasus penyakit sapi gila.
Shiner dan Yabunaka membicarakan masalah daging sapi didasarkan atas pembicaraan antara Presiden AS George W.Bush dengan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi melalui telepon Rabu dan dengan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice pada saat akan mengunjungi Jepang minggu depan, kata pejabat itu.
Bush mendesak Koizumi mencabut larangan tersebut, dan PM Jepang itu menyatakan berharap untuk memulai kembali impor secepatnya tanpa menyebutkan spesifikasi kerangka waktunya.
Tokyo sepakat dengan Washington Oktober tahun lalu untuk memulai kembali impor daging sapi dari hewan berusia sampai 20 bulan, turun dari permintaan sebelumnya agar Amerika Serikat menyetujui pengetesan serupa atas semua daging sapi yang diekspor ke Jepang.
Sebanyak 55 anggota Majelis rendah AS menyajukan suatu resolusi minggu lalu mendesak kantor USTR untuk "secepatnya" menerapkan sanksi ekonomi terhadap Jepang .
Sebanyak 20 senator dari negara-negara bagian pertanian mengirim surat bulan lalu kepada duta besar Jepang untuk AS Ryoko Kato, mengancam akan melakukan `tindakan ekonomi sebagai balasan" jika Jepang gagal secara cepat mencabut larangan impor tersebut. (*/erl)