Pelanggaran wilayah negara oleh Malaysia ini adalah untuk kesekian kalinya selama sepekan terakhir. Kemarin, dua kapal patroli Tentara Laut Diraja Malaysia terlihat di sekitar perairan Ambalat. Kapal-kapal ini memasuki wilayah perairan sejak siang hari dan baru bergeser menjelang petang.
Di perairan yang disengketakan ini, Malaysia menempatkan empat kapal diraja (KD), yakni KD Baung 49, Tanah II, Sri Johar, dan KD Kota Baharu. Kapal-kapal perang Malaysia, tadi dipantau ketat oleh kapal perang Indonesia. Jarak antara armada perang dua negara ini hanya berkisar 800 yard. Mereka mengambil jarak dan tidak saling mendekat .
Di bagian lain, aksi penolakan atas klaim Malaysia terhadap Blok Ambalat terus bergulir di sejumlah daerah di Tanah Air. Aksi diwarnai dengan pembakaran bendera Malaysia hingga long march menuju Gedung DPRD setempat. Di Kota Jambi, Kamis (10/3), aksi yang digelar puluhan aktivis dari berbagai organisasi kepemudaan didukung oleh anggota DPRD Provinsi Jambi.
Di antara anggota Dewan yang ikut berunjuk rasa adalah Mardinal. Anggota Dewan dari Fraksi Partai Golongan Karya itu menyatakan siap menjadi relawan untuk menyerang Malaysia. Dalam orasinya, pengunjuk rasa menyatakan mendukung TNI untuk menggelar operasi militer dan mengajak komponen bangsa di seluruh pelosok menjadi relawan.
Dari Semarang, Jawa Tengah, dilaporkan sekitar 26 organisasi Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) turun ke jalan menentang klaim Malaysia atas Blok Ambalat. Mereka long march dari berbagai kawasan menuju DPRD Jateng di Jalan Pahlawan. Di sepanjang jalan menuju Kantor Dewan, pengunjuk rasa mengumpulkan tanda tangan dukungan dari masyarakat.
Aksi para aktivis HMI ini diwarnai pembakaran bendera Malaysia. Dalam orasinya mereka menuntut pemutusan hubungan diplomatik atas Malaysia dan menyeretnya ke Mahkamah Internasional. Para demonstran juga menyatakan siap dikirim ke medan perang jika dibutuhkan.
Aksi anti-Malaysia yang marak itu membuat gerah pemerintah Malaysia. Menteri Luar Negeri Malaysia Syed Hamid Albar mengaku prihatin terhadap reaksi masyarakat Indonesia dalam menanggapi perkembangan kasus Ambalat. Terlebih, aksi massa tak lagi mengangkat kasus Ambalat semata. Namun telah bergeser menjadi sentimen anti-Malaysia. (stv/dar)