< >

Enceng Gondok Tutupi Sebagian Danau Toba

Jum'at, 11 Maret 2005 18:16
Kapanlagi.com - Tumbuhan gulma enceng gondok kini sebagian telah menutupi area Danau Toba, hingga mengurangi keindahan kawasan wisata alam kebanggan Propinsi Sumatera Utara (Sumut). Pantauan wartawan, Jumat (11/3), tanaman gulma enceng gondok itu terlihat di beberapa lokasi di wilayah danau seluas 1.103 kilometer persegi itu.

Alam dan lingkungan danau Toba yang diwarnai budaya khas batak, menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik domestik dan mancenegara tak terkecuali para delegasi peserta pertemuan tingkat tinggi Pemeritahan Regional sedunia di Sumut.

Namun, kebanggaan dan keindahan danau Toba itu kini terusik dengan munculnya beberapa tanaman enceng gondok yang menutup sebagian permukaan danau.

Kondisi alam dan ekosistem kawasan Danau Toba bagaimana pun kini tampaknya terusik. Meluasnya sebaran eceng gondok di sebagian besar kawasan pantai Danau Toba jelas salah satu pertanda bahwa air danau ini sedang berubah.

Tak hanya itu, daratan dan lereng di sekitar danau Toba muncul pula lahan-lahan krtis yang jika tidak segera diperbaiki akan makin merusak keindahan kaasan wisata tersebut.

Gubernur Sumut Tengku Rizal Nurdin mengakui mua sadar, ekosistem danau Toba sekarang sedang mengalami degradasi sebagai akibat kegiatan manusia maupun yang dipicu oleh fenomena alam dengan perubahan iklim secara global.

Tingkat degradasi yang kian tinggi di kawasan Danau Toba jelas salah satu problem lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Salah penanganan sedikit saja Danau Toba tidak lagi akan memberi manfaat, namun justru akan memicu petaka di belakang hari.

Hingga kini belum data rinci mengena luas permukaan danau yang sudah tertutup tumbuhan gulma tersebut, tetapi munculnya enceng gondok yang menutup sebagian Danau Toba mengindikasikan meningkatnya polutan logam berat di danau tersebut.

Endapan logam berat itu dicurigai bersumber dari sisa-sisa buangan pelet, bahan makanan ikan budi daya keramba. Pertumbuhan keramba apung di kawasan pantai Danau Toba setahun terakhir memang sangat pesat.

Masalah degradasi lingkungan Danau Toba, menurut Nurdin, diakibatkan pergeseran ran perilaku alam dan lingkungan Danau Toba yang bernuansa dilematis.

Di satu pihak, masyarakat butuh mata pencaharian dan penghidupan baru, seperti keramba apung, yang saat ini cukup signifikan, menambah penghasilan warga setempat. Namun, di pihak lain pertumbuhan keramba yang tidak terkendali dan jauh dari pembinaan petugas teknis lapangan setidaknya dianggap bisa memicu dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. (*/dar)