Di antara 45 kepala negara itu, dipastikan hadir, baik dalam KTT AA maupun KAA, Perdana Menteri (PM) Jepang Junichiro Koizumi, PM India Manmohan Singh, dan Presiden Cina Hu Jintao. "Walau (KTT AA) masih lebih dari satu bulan lagi, sudah 45 kepala negara atau pemerintahan yang menyatakan hadir dan dari negara besar di Asia akan hadir PM Koizumi, Presiden Hu Jianto dari Cina, dan PM India Manmohan Singh," kata Menlu Hassan Wirajuda saat ditanya seputar pelaksanaan KTT tersebut, di Kantor Presiden, Jumat (11/3).
Usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Perdana Menteri Malaysia Syed Hamid Albar, ia mengatakan Indonesia sudah mengundang 105 kepala negara atau pemerintahan.
Negara-negara anggota Gerakan Non Blok (GNB) di luar negara Asia Afrika seperti Amerika Latin dan Eropa juga akan diundang dalam pertemuan di Bandung itu.
"Karena KAA (pada 1955) merupakan asal dari berdirinya GNB pada 1960," kata Menlu Hassan.
Menurut dia, KTT AA bertujuan membangun kemitraan strategis antar negara-negara di dua kawasan.
"Pertama ke arah langkah kerjasam praktis, kerjasama realistis yang dibangun, baik kerjasama politik, ekonomi, perdagangan investasi budaya dan sebagainya, yang dibangun dengan dua jalur yakni jalur pemerintah-pemerintah dan jalur `people-people (rakyat-rakyat) termasuk kalangan bisnis," katanya.
KTT itu berskala besar dan bernilai strategis, mengingat belum ada "jembatan" di Samudra Hindia untuk membangun kejasama politik, ekonomi dan bidang lainnya.
Bandung Spirit (Semangat Bandung) yang dicetuskan pada KAA di Bandung tahun 1955 baru dapat dikonkretkan 50 tahun kemudian.
Sebelum dilaksanakan KTT AA, pada tanggal 19 April diadakan pertemuan tingkat pejabat senior. Pada 20 April diadakan pertemuan tingkat Menlu. Sedangkan pada 21 April tidak ada kegiatan karena kedatangan kepala negara atau pemerintahan. (*/dar)