Bila penyelesaian secara diplomasi/perundingan mengenai wilayah Ambalat milik RI yang diklaim Malaysia sulit diselesaikan dan konflik di perairan laut tidak dapat dihindarkan, maka relawan FBN Sultra sudah siap berangkat ke perbatasan untuk mempertahankan kedaulatan RI, kata Ketua FBN Sultra, Nasrun Latjinta.
Namun bila perundingan diplomasi terus berlanjut, maka seluruh relawan tersebut mulai akhir Maret 2005 ini akan melakukan latihan militer. Langkah itu dilakukan untuk mematangkan persiapan mental dan fisik dalam rangka bela negara, sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan, mereka siap berangkat kapanpun itu.
Selain latihan militer, relawan juga akan melakukan latihan fisik bela diri, sebab diantara relawan yang sudah terdaftar tersebut, tercatat beberapa orang diantaranya adalah pelatih/instruktur bela diri dari berbagai jenis olahraga dan seni bela diri yang berkembang di Sultra.
Para relawan tersebut sudah melakukan aksi sumpah setia melalui cap jempol darah dan mereka bukan hanya kaum pria, tetapi juga kaum perempuan. "Apapun mereka akan berikan demi membela dan mempertahankan kedaulatan negara. Jiwa patriotik mereka sangat tinggi dan siap membela negara secara fisik di perbatasan."
Pihak FBN dan para relawan sepakat tiap malam Minggu berkumpul di sekterariat FBN untuk saling mengenal, saling memotivasi, terus memelihara dan mempertahankan jiwa patriotik serta semangat bela negara. Saat berkumpul tersebut, FBN memberikan hiburan elekton dengan berbagai jenis musik bernuansa perjuangan.
Situasi perbatasan RI-Malaysia di wilayah laut Ambalat sulit diprediksi, sebab siapapun yang tidak dapat mengendalikan diri dan melakukan provokasi yang mengakibatkan satu meriam meletus dari salah satu kapal perang, maka konflik terbuka tidak dapat dihindarkan, walaupun perundingan terus dilakukan atau dijadwalkan.
Berdasarkan perkembangan situasi tersebut, maka relawan FBN Sultra akan terus siap dan mempersiapkan diri untuk sewaktu waktu berangkat ke perbatasan RI-Malaysia, sebab di provinsi lain seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, beberapa Provinsi di Pulau Jawa, relawannya juga sudah siap.
"Paling cepat, perundingan RI-Malaysia berlangsung dua bulan dan bila tidak terjadi konflik terbuka di perairan Laut Ambalat, maka relawan masih memiliki waktu untuk melakukan latihan militer dan beladiri praktis, termasuk bela diri menggunakan tenaga dalam," katanya.
Namun, prinsipnya, kapanpun bila dibutuhkan, seluruh relawan di Sultra yang setiap hari jumlahnya terus bertambah sudah siap berangkat ke perbatasan RI-Malaysia untuk melakukan bela negara dan mempertahankan keduaulatan negara RI dari klaim Malaysia. (*/tut)