< >

Produsen Sepakati Harga Pelumas Tidak Naik

Minggu, 13 Maret 2005 10:18
Kapanlagi.com - Dalam menyikapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kalangan produsen minyak pelumas di dalam negeri sepakat tidak menaikkan harga dan memilih mengurangi margin keuntungan.

"Kita tidak ikut menaikkan harga (menyusul kenaikan harga BBM), karena itu margin keuntungan kita kurangi," kata Ketua Asosiasi Produsen Pelumas Indonesia (Aspelindo) AP Batubara di Jakarta, Sabtu (12/3), saat Menteri Perindustrian Andung A Nitimihardja mendatangi produsen pelumas PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) sebagai rangkaian kunjungannya ke beberapa industri di Jabotabek.

Hal itu, kata dia, disepakati kalangan produsen pelumas yang tergabung dalam Aspelindo, antara lain Pertamina, WGI, Agip, Castrol, Federal Oil, dan dua anggota lainnya. Diakuinya, akibat kenaikan harga BBM, biaya produksi meningkat. Namun Batubara tidak ingin menyebutkan berapa persentase kenaikannya. Menurut dia yang pasti akibat kenaikan harga BBM, margin keuntungan produsen pelumas turun lima persen.

"Jadi tidak semua produsen itu menaikkan harga memanfaatkan kenaikan harga BBM. Masih ada pengusaha yang bermoral untuk tidak menaikkan harga," katanya.

Anggota Aspelindo sendiri merupakan para produsen pelumas besar di Indonesia dan menguasai 75% pangsa pasar pelumas di dalam negeri, yang juga mulai diserbu produk impor. Saat ini, menurut Batubara, kapasitas terpasang industri pelumas nasional mencapai 1,2 juta kilo liter, sedangkan kebutuhan pelumas di dalam negeri baru sekitar 700 ribu kilo liter per tahun.

"Jadi masih ada kapasitas berlebih di dalam negeri, karena itu seharusnya pemerintah terus memerangi impor pelumas illegal yang masih marak terjadi, agar industri pelumas di dalam negeri bisa terus tumbuh," ujarnya.

Sementara itu, General Manager Unit Pelumas PT Pertamina Djaelani Sutomo, mengatakan pertumbuhan permintaan pelumas di dalam negeri tidak terlalu besar yaitu antara 3-5 persen per tahunnya.

Pertamina yang menguasai 54% pasar pelumas di dalam negeri tersebut, lanjut dia, juga telah melakukan ekspansi pasar ekspor antara lain melalui Singapura yang diharapkan bisa menyebar ke negara lain.

Menurut dia, sebagian besar atau sekitar 60% pasar pelumas di Indonesia diperuntukkan untuk industri, sedangkan sisanya sektor lain, termasuk untuk kendaraan bermotor. "Produksi pelumas di Indonesia relatif bisa bersaing, karena bahan bakunya biasanya diambil dari dalam negeri," katanya. (*/dar)