< >

Ringgit, Dibakar di Bulungan Laris Manis di Sebatik

Minggu, 13 Maret 2005 13:13
Kapanlagi.com - Konflik kawasan perbatasan akibat diklaim sepihak perairan Ambalat dan Karang Unarang oleh Malaysia menimbulkan berbagai reaksi, misalnya pembakaran bendera Malaysia di Samarinda dan uang Ringgit di Bulungan, namun di Sebatik uang Ringgit Malaysia lebih laku dari rupiah.

Dilaporkan di Tarakan, Minggu berbagai reaksi masyarakat muncul terkait kasus ini, misalnya terjadi pembakaran bendera Malaysia dalam aksi demo di beberapa daerah di Kaltim antara lain di Samarinda dan Balikpapan.

Namun, meskipun situasi hubungan dua negara "menghangat" gara-gara kasus tersebut, uang Ringgit Malaysia masih lebih laku ketimbang Rupiah di Pulau Sebatik.

Pedagang di Pulau Sebatik lebih memilih uang Ringgit baik membeli maupun membayar dalam transaksi ketimbang Rupiah.

Misalnya, ketika ada empat warga pendatang yang memesan empat porsi ayam bakar, pedagang menjelaskan harga makanan tersebut 30 RM (Ringgit Malaysia) atau apabila dikurskan sekitar Rp75 sampai Rp90 ribu.

"Wah, mahal juga ayam bakar di sini," kata warga pendatang tersebut.

Sementara itu, menurut pedagang, mereka lebih memeilih uang RM karena akan memudahkan mereka dalam melakukan transaksi, karena mereka membeli barang umumnya dari Malaysia, termasuk ayam daging tersebut.

"Selain itu, kita lebih mudah menghitungnya karena harga uang RM (kurs) relatif stabil, tidak seperti rupiah yang harga jualnya turun-naik. Kalau menggunakan uang RM, kita langsung bisa berbelanja di Malaysia, namun kalau rupiah harus ditukarkan dulu," katanya.

Jarak Sebatik dari Tawau hanya sekitar delapan kilometer, atau kalau menggunakan perahu speedboat, hanya sekitar 25 menit.

"Namun, jangan dihubungkan masalah ini dengan semangat nasionalisme, karena apabila terjadi perang kita siap membela Indonesia secara habis-habisan," katanya.

Sementara itu, di Samarinda aksi anti Malaysia terjadi di depan DPRD Kaltim melibatkan OKP, sedangkan di Balikpapan dilakukan di depan perwakilan Tentara Diraja Malaysia yang melibatkan pula Legiun Veteran RI dan mahasiswa.

Di Kabupaten Bulungan, Tanjung Selor terjadi pembakaran uang Ringgit Malaysia sebagai sikap protes keras atas klaim sepihak oleh Malaysia atas peraiaran Ambalat dan Karang Unarang.

Apalagi secara historis bahwa wilayah tersebut --dulunya termasuk Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan-- masuk dalam wilayah Kesultanan Bulungan yang dikukuhkan Sekretaris Kerajaan Belanda di Bogor 15 Maret 1884.

Warga tidak perduli Namun, aksi anti Malaysia itu hanya melibatkan OKP dan berbagai organisasi kemasyarakat, sementara bagi masyarakat di utara Kaltim kurang perduli dengan situasi itu dan tidak jakin apabila berkembang lebih jauh, misalnya terjadi peperangan.

Salah satu bukti, warga yang pergi ke Malaysia setiap hari tetap normal, termasuk kapal reguler melayani Nunukan-Tawau.

Misalnya, kapal penumpang Indomaya dan Tawindo tetap beroperasi secara rutin membawa ratusan penumpang dari Nunukan ke Tawau dan Sebaliknya, sebagian besar memang penumpang tersebut warga negara Indonesia.

Sebagian adalah pedagang, TKI dan mereka yang hanya sekedar jalan-jalan/reakreasi, termasuk warga Malaysia dari Tawau ke Nunukan atau Tarakan yang jumlahnya rata-rata sekitar 10 orang/hari.

"Bagi warga perbatasan, pilihan untuk perang adalah hal terburuk karena banyak di antara warga di kawasan ini memiliki saudara di Tawau, Keke, Sabah dan Sandakan," kata Arifin, pedagang jeruk yang mengaku dari Bulungan yang sedang membawa dagangannya ke Tawau.

Ia mengaku punya adik yang kini jadi warga negara Malaysia, dan hubungan dagang tradisional itu telah dilakukan puluhan tahun tanpa masalah.

"Memang yang sering menimbulkan dampak negatif terhadap warga kita di Malaysia adalah para TKI ilegal, dan polisi di sana bisa memilah-milah, dalam arti bagi warga Kaltim yang sudah puluhan tahun melakukan perdagangan di sana tidak mengalami masalah," katanya. (*/rit)