< >

Sekolah Menjadi Tempat Pertama Kejahatan Diajarkan

Jum'at, 18 Maret 2005 21:27
Kapanlagi.com - Sekolah yang semestinya menjadi wadah pembentukan moral dan intelektual anak didik telah menjadi tempat pertama sebuah kejahatan diajarkan. Sekolah di kota-kota besar difragmentasikan menjadi `unggulan` dan `bukan unggulan`.

Masyarakat yang mengejar gengsi kemudian rela membayar mahal dan dengan cara apa saja untuk memasukan anaknya ke sekolah yang dianggap favorit, " ungkap budayawan dan penyair dari Makassar, Aslan Abidin, di Makassar, Jumat (18/03).

Aslan mencontohkan di sebuah sekolah unggulan di Makassar pada saat tahun ajaran baru, membuka pendaftaran hanya selama tiga jam. Ini, menurutnya sesuatu yang tidak masuk akal yang bisa dimaknai sebagai adanya upaya mengarahkan "pendaftar" melalui jalur lain dengan harus membayar sejumlah uang sogokan.

Kondisi itu, menurutnya telah membentuk sebuah masyarakat pendidikan dimana murid telah menjadi pihak "penyogok" dan guru menjadi pihak yang "disogok" yang berarti dengan sendirinya telah mengajarkan kepada anak didik ataupun pengajar untuk berbuat kejahatan atau "tidak benar" demi pencapaian tujuan-tujuan mereka.

Buruknya kualitas pendidikan di Indonesia menurut Aslan juga disebabkan karena kualitas belajar mengajar selama ini yang sangat tidak kondusif dari segi sumber daya pengajar. Perpustakaan ditutup karena para guru yang pengetahuannya tidak memadai takut kalau nantinya anak didik mereka bertanya sesuatu yang di luar kemampuan pengetahuan mereka.

Aslan mengisahkan, pengalamannya ketika sekolah dulu dimana para murid tidak diajarkan untuk bersikap kritis dan banyak bertanya. Tetapi guru biasanya memberi kesempatan muridnya bertanya menjelang lonceng berbunyi, sehingga kalau ada yang ingin bertanya harus menanggung beban psikologis dipelototi oleh teman-temannya," katanya.

Budaya bertanya pada akhirnya menjadi sesuatu yang ajaib, karena dianggap sesuatu tidak lazim. "Saya teringat kalau ada teman yang bertanya, maka teman-teman lain secara serempak akan melihat ke arah si penanya dengan pandangan aneh," katanya sambil menambahkan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang sangat ironi karena bertanya sendiri adalah esensi dari ilmu pengetahuan.

Aslan juga menyoroti budaya korupsi yang marak di perguruan tinggi. Para dosen menurutnya biasanya membuka peluang bagi terbukanya kemungkinan `kongkalikong` dengan para mahasiswanya dimana para dosen secara tidak langsung dengan bahasa yang sangat halus meminta `sesuatu` dari mahasiswa pada saat ujian atau menjadi syarat pemberian "nilai".

Akses dari semua inilah telah membawa pendidikan di Indonesia ke dalam kondisi keterpurukan dan ketertinggalan dari negara lain, demikian Aslan. (*/lpk)