< >

PMI Segera Akhiri Tahap Darurat di Aceh dan Sumut

Jum'at, 18 Maret 2005 22:09
Kapanlagi.com - Palang Merah Indonesia (PMI) segera mengakhiri tahap darurat dalam penanganan bencana alam yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara yang telah berlangsung sejak 26 Desember 2004.

"Setelah tahap darurat berakhir, PMI telah mempersiapkan tahapan selanjutnya yaitu tahap rekonstruksi dan rehabilitasi. Seluruh konsep untuk tahapan tersebut telah selesai dan siap untuk dilaksanakan," kata Kepala Divisi Humas PMI Pusat, Aswi R Nugroho di Kantor Pusat PMI di Jakarta, Jumat (18/03).

Tahap darurat (emergency relief) yang dijalankan oleh PMI bekerjasama dengan Komite Palang Merah Internasional, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dan sejumlah lembaga kemanusiaan lainnya berlangsung sejak 26 Desember 2004 hingga akhir Maret 2005.

Selama tahap darurat berlangsung, PMI melakukan sejumlah aktivitas untuk menolong korban bencana gempa bumi dan tsunami yang merenggut puluhan ribu nyawa manusia tersebut.

Aktivitas tersebut antara lain, proses evakuasi korban, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, penyediaan air dan sanitasi serta penyatuan anggota keluarga yang hilang atau terpisah (tracing and mailing service).

"Untuk proses evakuasi, hingga 14 Maret, jumlah jenazah yang berhasil dievakuasi oleh PMI berjumlah 61.861 sedangakan jenazah yang berhasil dievakuasi oleh tim PMI bersama unsur lain seperti TNI dan relawan dari berbagai organisasi berjumlah 121.548," ungkap Aswi.

Dalam melaksanakan operasi kemanusiaan di wilayah tersebut, PMI membagi daerah operasi menjadi lima zona antara lain zona pertama meliputi Banda Aceh, Aceh Besar dan Pidie, zona kedua meliputi Meulaboh hingga Pantai Barat sampai Aceh Jaya dan zona ketiga meliputi Lhokseumawe, Aceh Utara dan Aceh Timur.

Sedangkan Simeuleu masuk ke zona keempat dan zona kelima adalah Sumatera Utara.

"Yang perlu diingat, selama menjalankan operasi kemanusiaan di Aceh, kami juga bekerjasama dengan berbagai organisasi kemanusiaan baik yang berasal dari Indonesia maupun internasional, sehingga hasil yang dicapai lebih maksimal dan dapat membantu korban di daerah bencana itu," ujarnya.

Sementara itu dalam layanan kesehatan, PMI mendirikan 15 pos kesehatan dan 11 kesehatan keliling yang berada di Meulaboh, Simeulue, Banda Aceh, Bireun dan Lhokseumawe.

"Hingga 13 Maret, total pasien yang dilayani posko kesehatan dan kesehatan keliling di PMI NAD mencapai 15.048 terdiri dari pasien dewasa berjumlah 13.489 orang dan anak-anak mencapai 3.504 orang," katanya.

Untuk melayani pemulihan dan perawatan kesehatan pengungsi korban bencana alam tersebut, hingga 14 Maret PMI pusat telah memobilisasi 44 dokter dan 87 paramedis/perawat.

"Selain layanan kesehatan, PMI juga harus memfungsikan kembali unit transfusi darah di Banda Aceh. UTD Banda Aceh mulai beroperasi kembali tiga minggu setelah bencana gempa dan tsunami melanda daerah itu," tutur Aswi.

Selain unit transfusi darah di Banda Aceh, PMI juga memiliki dua lokasi unit transfusi darah di Provinsi NAD yaitu di Lhokseumawe dan Langsa yang bisa beroperasi secara normal karena tidak mengalami kerusakan akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 tersebut.

"Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menjalankan tahapan selanjutnya yaitu proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang mungkin akan berlangsung hingga lima tahun yang akan datang, karena memang proses pemulihan daerah itu secara fisik maupun psikologis memakan waktu yang lama," kata Aswi. (*/lpk)