Presiden ADB Haruhiko Kuroda mengatakan, perhatian dunia harus tetap terpusat pada saat tugas pekerjaan sekarang ini beralih ke tahap rekonstruksi. Hampir 300.000 orang meninggal dalam gempa bumi dan gelombang tsunami tanggal 26 Desember tahun lalu. Puluhan ribu lainnya kehilangan rumah maupun nafkah sebagai akibat bencana tersebut.
ADB mengeluarkan laporan pasca-tsunami pada sebuah pertemuan internasional negara-negara donor, pemerintah-pemerintah regional dan badan-badan bantuan di ibu kota Filipina, Manila. Dalam sambutan pembukaannya, Kuroda mengingatkan kembali akan parahnya dampak dari amukan gelombang di sejumlah pantai di Asia.
• Di India, jalan sepanjang 700 kilometer hancur
• Di Aceh, Indonesia, 44% warganya kehilangan mata pencarian
• Di Sri Lanka, 100.000 rumah rusak-rata dan 65% armada nelayan rusak.
Kuroda mengatakan badan-badan bantuan dan pemerintah-pemerintah perlu meningkatkan koordinasi dan membelanjakan dana dengan cara-cara yang bisa diperkirakan sebelumnya, transparan, strategis maupun efektif.
"Mengingat besarnya skala penyembuhan, bahkan kalau pun orang berusaha sebaik-baiknya dalam koordinasi, kemungkinan adanya celah, tumpang-tindih dan duplikasi tetap cukup signifikan," demikian dia memperingatkan, seraya menambahkan bahwa sarana perlu dikembangkan untuk mencegah terjadinya hal-hal tersebut.
Dia menyerukan kepada negara-negara penerima bantuan untuk memerangi korupsi dan memastikan bahwa uang yang mereka terima memang dibelanjakan dengan bijaksana. Keprihatinan mereka dikumandangkan juga lewat pesan-pesan yang direkam dari mantan presiden Amerika Bill Clinton dan George Bush Sr.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Lakshman Kadirgamar, mengatakan bahwa negaranya belum menerima uang yang dijanjikan oleh pemerintah-pemerintah - biarpun orang di berbagai pelosok bumi telah begitu dermawan. (bbc/tut)