< >

Gangguan GAM Meningkat Pasca Tsunami

Kamis, 24 Maret 2005 16:26
Kapanlagi.com - Eskalasi gangguan keamanan yang dilakukan kelompok Gerakan Separatis Aceh (GSA) terhadap warga masyarakat di beberapa wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaporkan meningkat, khususnya dalam beberapa pekan terakhir pasca terjadinya bencana alam di daerah itu.

Juru bicara Komando operasi (Koops) TNI Ari Mulya Hasymi menegaskan tindakan teror seperti penculikan, pemerasan dan pembunuhan yang dilakukan kelompok bersenjata GSA terhadap masyarakat di beberapa wilayah di Aceh itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

"Kelompok bersenjata GSA semakin brutal dengan melakukan berbagai aksi kekerasan terhadap warga, misalnya penculikan, pemerasan dan pembunuhan terhadap masyarakat," tegasnya. Ia mencontohkan, kasus gangguan keamanan yang dilakukan kelompok bersenjata GSA itu yakni penculikan terhadap salah seorang karyawan perusahaan swasta perkebunan, dengan korbanya adalah M Nasir.

Korban diculik tiga GSA bersenjata campuran di kawasan Desa Alue Nireh, Aceh Timur, pada Rabu dini hari. Nasib karyawan perusahaan perkebunan itu hingga kini belum diketahui sejak korban dibawa oleh kelompok GSA wiliyah tersebut. Sementara beberapa hari sebelumnya, GSA juga melakukan penembakan terhadap seorang petani bernama Safruddin, penduduk Kute Lintang, Kecamatan Blang Kejeuren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi NAD.

"Korban meninggal dunia di lokasi kejadian dengan beberapa luka tembak dan bacokan di sekujur tubuhnya. Korban kini telah dikebumikan masyarakat setempat," tambahnya. Kasus penculikan yang dilakukan kelompok bersenjata separatis Hasan Tiro itu bertujuan sebagai pemerasan terhadap masyarakat sipil. "Meski demikian, aparat keamanan terus melakukan pengejaran terhadap kelompok separatis itu."

Pihak GSA bersenjata itu memanfaatkan celah-celah yang tidak terjangkau aparat keamanan dalam upaya melakukan berbagai aksi kekerasan terhadap penduduk. "Patroli keamanan memang rutin kita lakukan, namun pihak GSA melakukan aksinya jika tidak ada TNI dan Polri," tambah Ari. (*/tut)