< >

Orangutan Liar di Indonesia Punah dalam Lima Tahun

Kamis, 24 Maret 2005 22:07
Kapanlagi.com - Koordinator divisi kampanye ProFauna Indonesia, Hardi Baktiantoro menyatakan bahwa jika tidak dilakukan konservasi secepatnya, maka dalam lima tahun mendatang habitat satwa orangutan liar di Indonesia akan mengalami kepunahan.

"Habitat satwa liar orangutan ini akan punah jika pemerintah tidak segera melakukan konservasi termasuk jika penegakan hukumnya tidak jalan dan kepunahan itu akan terjadi terutama dikawasan Pulau Sumatera dan Kalimantan," katanya di Malang, Kamis (24/03).

Musnahnya habitat satwa liar orangutan tersebut, katanya, selain disebabkan oleh hilangnya habitat akibat kebakaran dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian serta penebangan kayu secara besar-besaran, pemeliharaan orangutan liar oleh masyarakat juga merupakan pemicu utama kepunahan satwa langka tersebut.

Menurut dia, pemeliharaan secara ilegal oleh masyarakat ini juga memicu perburuan dan perdagangan secara ilegal pula dan mengakibatkan semakin berkurangnya habitat orangutan liar bahkan mendekati kepunahan.

Ia memperkirakan, jumlah satwa orangutan liar di Indonesia hanya tinggal 14.000 ekor dan hasil investigasi ProFauna belum lama ini, setidaknya 1.000 ekor orangutan diambil dari Kalimantan dan dikirim ke Jawa.

Sedangkan hasil survey dari Program Konservasi Orangutan Sumatera (PKOS), katanya, juga disebutkan bahwa sekitar 1.000 ekor orangutan di Sumatera Utara dan Aceh hilan setiap tahun dan saat ini di dua daerah tersebut tinggal 7.518 ekor saja. Ia mengakui, para pemburu, pedagang dan pemelihara merupakan mata rantai penyebab kepunahan orangutan secara nyata, namun seringkali justru terabaikan oleh masyarakat yang mengaku sebagai pecinta satwa, padahal setiap satu bayi yang dibeli para pecinta satwa itu sama artinya satu induk orangutan telah mati, karena mempertahankan bayinya.

Padahal, setiap bayi orangutan yang sampai ditangan pedagang tidak seluruhnya bisa bertahan hidup, dari empat bayi yang `diculik` hanya satu yang bisa bertahan hidup akibat kesalahan pakan, kurang minum, stres akibat perlakuan buruk selama dalam proses pengiriman.

Kalaupun mampu bertahan hidup, lanjutnya, seringkali mengidap penyakit dan kemungkinan besar ditularkan kepada manusia seperti hepatitis, tubercolosis, infeksi parasit usus dan infeksi saluran pernafasan, karena DNA orangutan 97% seperti manusia.

Dikatakannya, perdagangan orangutan dari Indonesia seringkali dieksport ke Thailand, Singapura, Malaysia, Arab Saudi dan Taiwan dengan harga jual sekitar US$50 ribu per ekor.

"Dalam waktu dekat ini, kami berupaya memulangkan sekitar 117 ekor orangutan dari Thailand dengan nilai total sekitar Rp6,6 miliar dan akan dikembalikan ke habitatnya, karena orangutan merupakan salah satu satwa yang dilindungi sejak tahun 1924 dan dikuatkan dengan UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya," katanya. (*/lpk)