Direktur Eksekutif Radjiah M. Idris kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis, menyatakan, permasalahn sosial yang muncul pasca musibah tsunami di NAD, salah satunya adalah aktivitas trafficking terhadap perempuan dan anak korban tsunami yang berkedok adopsi atau menjanjikan pekerjaan.
Disebutkan, pasca tsunami, YDR menemukan adanya aktivitas trafficking yang berdalih untuk adopsi atau iming-iming guna mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi di luar Aceh.
Dalam mengantisipasi upaya aktifitas tersebut tidak terjadi, YDR peduli mengadakan kampanye untuk menghimbau rakyat Aceh, khususnya kaum perempuan dan anak agar tidak mudah percaya akan janji-janji yang diberikan oleh pihak-pihak tertentu.
Karena, lanjut, Radjiah, semua yang dijanjikan tersebut belum tentu dapat membawa mereka akan perubahan dalam segala aspek kehidupan seperti yang mereka harapkan.
Dengan kampanye ini juga diharapkan masyarakat Aceh dengan kesadaran yang tinggi ikut membangun Aceh dari kehancuran bencana alam yang baru saja mereka alami.
Ia menyebutkan, aktivitas kampanye dilaksanakan di jalan-jalan protokol Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, serta melalui 10 kamp-kamp pengungsi dan barak-barak relokasi.
Untuk mensosialisasikan isu-isu trafficking tersebut dalam kampnyenya, YDR membagi-bagikan brosur-brosur dan buku-buku komik pada masyarakat di barak-barak dan kamp-kamp pengungsian. (*/lpk)