< >

Beberapa Perusahaan Internasional Tawarkan Bangun Donasi Infrastruktur ICT NAD

Senin, 28 Maret 2005 06:38
Kapanlagi.com - Beberapa perusahaan internasional yang dimotori Intel Corporation menawarkan donasi dalam bentuk perangkat infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk dibangun di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

"Perangkat tersebut berupa infrastruktur nirkabel (wireless communication) dan fiber optik dengan nilai investasi sekitar US$30 juta," kata Ketua Yayasan Airputih, Edwardo Rusfid, kepada ANTARA di Jakarta, Minggu pagi.

Dalam pertemuan yang dilangsungkan di Jakarta, 14-16 Februari 2005 lalu, pihak donor komitmen menyumbang perangkat, terdiri dari 5 Base Transceiver Station (BTS) dan 50 client access perangkat "wireless communication" yang bekerja pada frekuensi 5,7 GHz.

Dalam pertemuan itu, Menteri Kominfo, Bapak Sofyan Djalil juga hadir dan menyatakan dukungan pemerintah terhadap rencana ini.

BTS akan dipasang di tiga kota yaitu tiga unit di Banda Aceh, dan masing-masing satu unit di Meulaboh, dan Calang. Sedangkan perangkat fiber optik digelar di sepanjang kira-kira 840 km yang akan menghubungkan Medan - Lhoksumawe - Banda Aceh - Calang dan Meulaboh.

Selain itu, pihak Intel corporation juga menyumbangkan 50 unit laptop yang akan digunakan sebagai terminal akses.

Menurut Edward, tahap pertama dilakukan pembangunan perangkat komunikasi wireless dan setelah itu baru mengarah kepada pemasangan perangkat fiber optik.

Untuk perangkat komunikasi wireless diharapkan dapat dimulai pada minggu ke 3 April 2005, karena masih menunggu beberapa dokumen pendukung dari pemerintah, meliputi pembebasan penggunaan frekuensi 5,7 GHz dari Postel dan pembebasan biaya-biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi, serta bea cukai (Depkeu).

"Begitu dokumen-dokumen ini keluar, perangkat-perangkat bantuan yang kini berada di Singapura bisa langsung dikirim," tegas Edwardo.

Sementara untuk pemasangan fiber optik masih belum jelas, karena masih menunggu sepenuhnya dukungan secara tertulis dari pemerintah.

"Yayasan Airputih telah berkomunikasi dengan pemerintah, termasuk dengan Kominfo untuk bisa membantu merealisasikan program ini," katanya. Menurut Edwardo, pembangunan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari program "ICT for Aceh" yang sudah dijalankan sejak 31 Desember 2004, pasca musibah gempa dan tsunami.

Yayasan Airputih Yayasan Airputih dibentuk oleh sekelompok pelaku dunia teknologi informasi (TI) yang pada saat terjadi bencana tsunami dan gempa di Aceh, terpanggil untuk memberikan bantuan.

Hingga kini, Yayasan Airputih telah membangun lebih dari 23 Media Center dan membangun beberapa perangkat berbasis VSAT. Semua ini merupakan barang-barang bantuan dari vendor atau perusahaan-perusahaan ICT yang ada di Indonesia.

Sejak awal Tim AirPutih juga sudah menyediakan media komunikasi dan Informasi melalui website di www.acehmediacenter.or.id dan membangun data center yang datanya dipasok dan didukung oleh beberapa Organisasi Non Pemerintah (NGO) baik lokal maupun internasional.

Edwardo menjelaskan, dengan dibangunnya infrastruktur itu diharapkan dapat memudahkan distribusi data dan komunikasi, serta memudahkan program-program pemerintah dalam rangka pemulihan Aceh.

Tidak hanya itu, jika program ini dapat terselenggara secara utuh, maka NAD dapat menjadi salah satu propinsi dengan infrastruktur ICT tercanggih di Indonesia.

Sebelumnya, Menkominfo Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah telah menerima komitmen dari beberapa perusahaan Internasional dalam rangka pembangunan infrastruktur ICT di Aceh.

Edwardo mengatakan, Yayasan Air Putih tidak ingin gembar-gembor soal donasi ini. Hal ini didasari karena memang sampai saat ini program ini belum berjalan.

"Jadi atau tidaknya pembangunan Infrastruktur ICT di NAD ini tergantung dukungan tertulis dari pemerintah. Tentu, sangat disayangkan jika bantuan yang bermanfaat di masa depan untuk rakyat Aceh dan bangsa Indonesia ini tidak terselenggara jika respon pemerintah lamban," tegas Edwardo. (*/erl)