Ini dilakukan untuk menghentikan anggota kelompok tersebut melancarkan protes di depan gedung parlemen. Ratusan pendemo berusaha berkumpul kembali untuk melancarkan aksi serupa di lokasi lain di pusat kota Kairo.
Kementerian Dalam Negeri Mesir mengatakan bahwa polisi menahan 50 dari mereka karena menolak dibubarkan. Kementerian itu mengatakan aksi demo tersebut belum disetujui dan tidak penting karena warga Mesir mempunyai saluran lain untuk menyatakan uneg-uneg mereka.
Anggota utama kelompok itu, Essam al-Erian, mengatakan bahwa pihak berwenang sebelumnya telah menahan 49 dari penggerak demo. Seorang penggerak kelompok itu mengatakan tujuh dari mereka, termasuk anggota senior Abdel Monem Aboul Fotouh, dibebaskan pada Minggu sore.
Seorang pejabat mengatakan 49 pria yang ditahan dalam lima penyisiran terpisah Sabtu sore, "memiliki buku-buku yang menentang sistem pemerintahan." Buku dan penerbitan tersebut disita oleh pihak aparat keamanan. Mereka dicurigai melakukan perekrutan bagi anggota kelompok Persaudaraan Muslim untuk "mengganggu keamanan."
Penangkapan itu dilancarkan di Kairo, dua propinsi utara ibukota Mesir itu dan Fayoum, satu jam ditempuh dengan mobil dari baratdaya Kairo. Aboul Fotouh diculik dari kantornya Minggu atas tuduhan keterkaitannya dengan kelompok itu, yang dilarang sejak tahun 1954 namun diberikan toleransi dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak-Calon Persaudaraan Muslim, seperti kelompok oposisi Mesir yang lain, mengkritik usul Presiden Hosni Mubarak yang memperkenalkan pemilihan presiden banyak-calon menggantikan refrendum berdasarkan satu calon yang dipilih parlemen. Sejumlah demonstrasi dilakukan sejak Desember lalu untuk menentang perpanjangan kekuasaan Mubarak, yang memerintah Mesir sejak 1981.
Namun ketua keamanan Kairo Mayjen Nablil el-Ezabi mengatakan pihak berwenang memutuskan untuk tidak mengizinkan aksi protes Minggu dan akan mencegah demo lainnya yang menyerukan pembaruan politik yang direncanakan hari Rabu. Pemimpin kelompok utama Mesir itu, Mohamed Mahdi Akef, mengatakan bahwa kelompok Komunis, "Gerakan Cukup" telah menggerakan aksi demo.
Pentolan kiri dalam "Gerakan Cukup", yang juga kelompok oposisi, menentang perpanjangan kekuasaan Mubarak atau pemindahan kekuasaan kepada anak laki-lakinya. Jumlah anggota Persaudaran Muslim yang bersikap indenpenden lebih banyak duduk di parlemen ketimbang partai-partai oposisi lainnya yang diakui. (*/tut)