Pangdam IM berkunjung ke Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Tiro, sekitar 130 KM sebelah timur kota Banda Aceh untuk membuka pendidikan secata prajurit karir (PK) TNI-AD khusus Nanggroe Aceh tahap-II tahun 2004.
Ditegaskannya, GSA masih ada dan kelompok pemberontak Aceh itu selalu berusaha memperlihatkan eksistensinya, walaupun sebagian diantara mereka akhir-akhir ini sudah menyerahkan diri kembali kepangkuan Ibu Pertiwi atas kesadaran sendiri.
Penegasan itu disampaikan ketika melihat sejumlah barang bukti milik anggota pemberontak Aceh itu yang berhasil disita pasukan TNI yang tergabung dalam tim Parako dibawah pimpinan Lettu (Inf) Is Abul Razi ketika melancarkan operasi pemburuan GSA di kawasan hutan Panton Bunot, Tiro, Kabupaten Pidie.
Menurut Komandan Satgaspur III Tiro, Letkol (Inf) Rubiono, barang bukti milik anggota GSA itu ditemukan dalam suatu penggerebekan lokasi persemunyian mereka yang dilakukan Senin sekitar pukul 04.00 WIB.
Dalam penggerebekan tersebut berhasil disita antara lain 600 butir amunisi, sekitar seupuluh kilogram beras, lampu senter sebelas buah, dua lembar baju loreng mirip TNI, dua komfor masak, empat tas pinggang, sejumlah obat-obatan, sebuah radio komunikasi (HT) dan sepucuk senjata apa standar jenis SS-1 bersama enam buah magazen.
"Pasukan kami hanya berhasil menyita barang bukti, sedangkan anggota pemberontak Aceh wilayah Tiro itu lolos dari sergapan petugas," katanya. Sebelumnya anggota TNI sempat terlibat baku tembak selama dengan beberapa anggota pemberontak Aceh itu. "Barang bukti tersebut tertinggal karena mereka keburu melarikan diri."
Kawasan Tiro selama ini dikenal sebagai salah satu daerah basih para pemberontak Aceh, sehingga aparat TNI terus memburu mereka (GSA) untuk menciptakan rasa aman dan perlindungan bagi masyarakat di sekitar daerah itu dari aksi toror serta pemerasan anggota separatis Aceh itu. (*/tut)