Informasi yang diterima wartawan di Muara Teweh, Rabu (30/3) menyebutkan puluhan ribu ton batubara tersebut milik perusahaan tambang batubara PT Marunda Graha Mineral (MGM) di wilayah kecamatan Laung Tuhup, Mura dan Koperasi Manasai Sumber Makmur (MSM) di kecamatan Lahei, Barut.
Tidak terangkutnya hasil tambang batubara di dua kabupaten yang berada di daerah aliran sungai (ADS) Barito ini karena tidak bisa melewati jembatan KH Hasan Basri yang berada di Muara Teweh.
"Saat air tinggi ini kapal dan tongkang berukuran besar banyak yang tertahan sambil menunggu air surut," kata seorang warga yang tempat tinggalnya berada di pinggiran DAS Barito.
Investor batubara yang berada di wilayah pedalaman Barito selalu menghadapi kesulitan membawa hasil produksi terutam angkutan sungai yang merupakan satu-satunya sarana transportasi selain air tinggi tidak bisa melewati jembatan juga pada saat musim kemarau yang mengkibat DAS Barito surut.
PT MGM merupakan perusahaan pemegang perjanjian kontrak pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) membawa hasil produksi dengan angkutan tongkang bertonase 4.000 ton bisa mencapai sembilan kali dalam sebulan.
Sedangkan koperasi MSM yang memegang izin kuasa pertambangan (KP) di wilayah desa Luwe Hulu kecamatan Lahei ini dengan areal seluas 5.000 hektar menggunakan angkutan tongkang sebanyak 4.100 ton dengan kandungan 6.200 kalori.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Barut Ir H Muhammad Hatta MM mengakui dalam beberapa hari terakhir angkutan batubara yang melewati jembatan KH Hasan Basri terhenti akibat air tinggi.
Untuk mengatasi masalah ini Pemkab Barut telah mengusulkan redesain dan rekonstruksi jembatan yang merupakan satu-satunya sarana akses kabupaten Barut dan Mura ke luar daerah kepada Gubernur Kalteng.
"Jadi untuk mengatasi ini Pemkab Barut mengusulkan rencana tersebut merubah bagian tengah jembatan untuk bisa dilalui pada saat air pasang," katanya.
Alasan perubahan bentuk jembatan ini untuk dilakukan redesain seperti lebar dan tingginya serta rekonstruksi yang nantinya perlu pertimbangan teknis yang melibatkan beberapa konsultan untuk mengantisipasi perkembangan sekarang karena masuk investor batubara yang melintasi jembatan itu.
Misalnya jembatan ini akan dinaikan dari kondisi sekarang sekitar 6-7 meter pada bagian tengahnya sehingga angkutan batubara ini dapat fungsional dalam kondisi air tinggi.
"Usulan untuk mengubah bentuk jembatan ini disambut baik Pemprov Kalteng, namun untuk merealisasikannya perlu waktu dan biaya," katanya. (*/dar)