"Bulan Maret, angka inflasi menurut BPS mencapai 1,91% dan ini yang tertinggi di tahun 2005, padahal harga BBM baru dinaikkan pada Maret 2005. Angka itu belum dimasukkan parameter lainnya yang mengalami dampak ikutan kenaikan harga BBM," kata Direktur INDEF, Iman Sugema kepada wartawan di Jakarta, Senin (04/4).
Menurut Iman, untuk menekan inflasi BI harus melakukan pengetatan moneter guna menyerap likuiditas dari masyarakat.
"Perputaran uang harus ditekan dan salah satu caranya dengan menaikkan instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI)," ujar Iman.
Likuiditas masyarakat dan juga sikap konsumtif masyarakat yang tinggi menyebabkan kenaikan harga barang.
Namun implikasinya, BI juga harus meningkatkan anggaran terkait kenaikan SBI.
"Pemerintah juga harus meningkatkan anggaran untuk pembayaran suku bunga obligasi," katanya.
INDEF menegaskan pula bahwa kenaikan itu merupakan pilihan yang tidak bisa dihindari oleh BI kalau ingin menekan angka inflasi.
"Kalau inflasi dibiarkan naik, Indonesia akan dibawa ke jurang krisis moneter tahap ke dua yang jauh lebih mengerikan," tambahnya.
Sebelum krisis moneter, angka inflasi umumnya mencapai dua digit setiap tahun, sedangkan beberapa tahun terakhir pemerintah cukup berhasil menekan angka inflasi menjadi di bawah 7%.
"Dengan inflasi yang lebih tinggi dari negara lain, Indonesia tidak akan mempunyai daya saing. Produksi Indonesia tidak laku dijual ke luar negeri dan pendapatan negara menurun," ujarnya.
Mengenai pengendalian harga bahan pokok untuk menekan inflasi, Iman menilai hal itu justru akan menyebabkan produsen di Indonesia semakin tertekan.
"Misalnya saja pemerintah ingin mengendalikan harga beras dengan mengimpor beras yang harganya lebih murah, tentu yang menderita para petani kita dan ini akan menambah angka orang miskin di pedesaan," katanya.
Sementara dampak kenaikan ongkos angkut karena kenaikan harga BBM baru bisa dirasakan oleh pelaku pasar dua atau tiga bulan ke depan.
"Dua-tiga bulan lagi akan terjadi kenaikan harga barang akibat kenaikan harga BBM, sehingga angka inflasi akan meningkat pula. Untuk itu BI perlu melakukan pengetatan moneter hingga tiga bulan ke depan," ujarnya.
Setelah terjadi kestabilan harga di masyarakat, menurut Iman dapat diprediksi arah inflasi sehingga angka inflasi dapat diketahui.
"Pihak bank juga akan menentukan berapa suku bunga yang akan diterapkan untuk tahun depan setelah angka inflasi itu diketahui," katanya.
Pihak BPS, Jumat (1/4) mengumumkan bahwa inflasi Maret 2005 mencapai 1,91% sementara laju inflasi tahun kalender Januari-Maret 2005 mencapai 3,19%, sedangkan inflasi tahun ke tahun (Maret 2005 dibanding Maret 2004) adalah 8,81%.
Pemerintah di dalam APBN- Perubahan 2005 memasang target inflasi 7% atau naik dari target di dalam APBN 2005 sebesar 6,5%. (*/dar)