Demikian diungkapkan Dirut PT BBJ Hasan Zein Mahmud, kepada pers, ketika menyampaikan laporan keuangan perusahaan, di Jakarta, Selasa (12/4).
Pendapat operasional terbesar diperoleh dari fee transaksi kontrak berjangka sebesar Rp6,66 miliar atau 69% dari total pendapatan operasional bursa, 30% dari iuran anggota bursa atau Rp2,88 miliar dan satu persen atas penjualan informasi perdagangan.
"Jika dibandingkan dengan tahun 2003 maka realisasi pendapatan operasional BBJ tahun 2004 mencatat kenaikan 64% atau sebesar Rp3,75 miliar," katanya.
Dari segi biaya operasional pada tahun 2004, BBJ mampu merealisasikan pengeluaran 22% lebih rendah dari anggaran atau Rp1,98 miliar lebih rendah dari RKAT (Rencana Kerja Anggaran Tahunan) 2004. Namun dibandingkan dengan realisasi tahun 2003, biaya operasional BBJ alami kenaikan sekitar 12%.
Dikatakan pula, total volume transaksi juga alami peningkatan 157% dari 388 ribu lot tahun 2003 menjadi 999 ribu lot tahun 2004, sementara rata-rata volume perdagangan harian selama periode yang sama alami peningkatan 158% dari 1.492 lot selama 2003 jadi 3.842 lot tahun 2004.
"Peningkatan likuiditas tersebut bersama dengan upaya perbaikan efisiensi internal yang terus menerus dilakukan manajemen, tercermin langsung dalam kinerja keuangan BBJ tahun buku 2004," kata Hasan.
Rata-rata kenaikan volume bulanan triwulan pertama 2005 jika dibandingkan volume bulanan triwulan pertama 2004, katanya, adalah diatas tiga kali lipat atau diatas 300%.
Demikian juga perkembangan volume pada Maret 2005 menunjukkan kinerja membaik. Total volume yang diperdagangkan pada Maret 2005 jika dibanding Februari 2005 naik 21,81% atau 53.388 lot yaitu dari 244.784 lot menjadi 298.172 lot.
Mengenai posisi tiga pialang berjangka teraktif pada Maret 2005 adalah PT Valbury Asia Futures (65.926 lot), PT Solid Gold Berjangka (41.030 lot), dan PT Millenium Penata Futures (37.254 lot).
Sementara pada Februari 2005, pialang yang belum bertransaksi adalah PT Artha Berjangka Nusantara, PT Soldatand Citra Berjangka, PT Laju Investama Futures, dan PT Buana Artha Berjangka. (*/dar)