< >

KNKT Akan Selidiki Anjloknya Dua Kereta Api Eksekutif di Cirebon

Selasa, 19 April 2005 18:38
Kapanlagi.com - Dua peristiwa anjloknya kereta api kelas eksekutif, yakni KA Argo Lawu dan Argo Muria dalam waktu selang sehari dan nyaris di lokasi yang sama, tepatnya di Desa Adidarma, Cirebon Utara, Cirebon, akan segera diselidiki oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Kahumas PT KAI Daops III Cirebon, Suhartono di Cirebon, Selasa mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan nota permintaan kepada KNKT untuk menyelidiki secara pasti mengenai sebab-sebab terjadinya kecelakaan kereta api hampir di lokasi yang sama yang terjadi pada Minggu (17/04) siang dan Senin (18/04) malam.

"Dua kali kecelakaan anjloknya dua rangkaian kereta api eksekutif di kilometer 218+45 dan 216+00 itu memang menimbulkan tanda tanya besar bagi kami, untuk itu kami ingin tahu penyebabnya sehingga minta bantuan KNKT untuk melakukan penyelidikan secara seksama," katanya.

Ia mengatakan, secara kasat mata, dua peristiwa anjloknya kereta api yang tidak menelan korban jiwa manusia itu, lebih disebabkan kepada faktor teknis. Namun demikian untuk menjawab asumsi itu perlu ada penelitian dan penyelidikan.

"Kami berharap KNKT bisa mengungkap penyebab kecelakaan tersebut. Kalau melihat kondisi rel, jaringan rel yang ada di kawasan lokasi kejadian merupakan rel yang tergolong baru, yakni buatan Australia. Kondisinya masih bagus dengan berat rata-rata 54 kilogram per meter," katanya.

Ia mengatakan, kondisi rel seperti itu tergolong masih bagus, kendati ada beberapa rel yang kondisinya sudah memprihatinkan akibat aus, yakni bobot rel mencapai 42 kilogram per meter.

"Dengan penelitian bisa diketahui penyebabnya, apakah rel yang rusak, lebar rel yang berubah atau memang roda gerbong yang sudah aus dan mengalami perubahan presisi," ucapnya.

Sedangkan mengenai waktu penelitian, kata Suhartono, penelitian seperti itu memerlukan yang cukup lama, karena selain memeriksa fisik, juga harus memeriksa sistem dan perangkat lainnya dalam aktivitas perjalanan kereta api.

"Paling cepat dua hingga tiga bulan, hasil penelitian dan penyelidikan bisa diketahui. Yang pasti, dengan adanya peristiwa itu, kami akan lebih berhati-hati dalam melakukan pengawasan terhadap setiap perjalanan kereta api, terutama yang non ekonomi," ujarnya.

Sedangkan mengenai kondisi terakhir pascaanjloknya KA Argo Muria pada Senin (18/04) malam sekitar pukul 19.24 WIB, Suhartono mengatakan, jadwal belasan perjalanan kereta api sempat terganggu, bahkan keterlambatan kereta api sampai di kota tujuan mencapai empat hingga lima jam dari jadwal semula.

"Kondisi seperti itu berlangsung hingga Selasa siang ini, karena kawasan sepanjang rel yang rusak akibat anjloknya dua kereta api pada Minggu dan Senin itu, hingga saat ini masih dalam perbaikan," katanya.

Ia mengaku belum bisa memastikan kapan jadwal kereta api akan kembali normal, karena meski rel kereta api Cirebon Cikampek double track, namun untuk lalulintas kereta api terpaksa harus dilakukan buka tutup di antara dua stasiun masing-masing di Stasiun Parujakan (Kota Cirebon) dengan Stasiun Arjawinangun (Kabupaten Cirebon), karena diantara dua stasiun itulah, lokasi anjloknya dua kereta api tersebut.

Aryani (30) salah seorang calon penumpang tujuan Bandung yang hendak menggunakan KA Harina yang ditemui ANTARA di Stasiun Kejaksan kota Cirebon, Selasa dini hari mengaku kecewa atas keterlambatan kedatangan kereta di cirebon dari Semarang tersebut.

"Kalau tahu keretanya bakal terlambat, kami akan menggunakan bus. Namun karena ketika akan membeli tiket pada pukul 12.10 WIB dikatakan oleh petugas kalau kereta api Harina itu akan tiba di Cirebon tepat waktu, yakni pukul 12.30 WIB, kami terpaksa membeli tiket. Tapi nyatanya kereta tersebut baru tiba di Cirebon sekitar pukul 04.00 WIB," katanya dengan nada kesal.

Menurut dia, seharusnya pihak PT KAI memberitahu sejak awal kalau jadwal keberangkatan dan tiba kereta mengalami keterlambatan hingga ber jam-jam akibat anjloknya KA Argo Muria itu.

"Mestinya kami dapat konpensasi atas semua keterlambatan tersebut," tandasnya seraya menambahkan, PT KAI tidak profesional dalam menjual jasa transportasi tersebut. (*/lpk)