"BI harus ambil sikap, tidak bisa tidak yakni pengetatan moneter agar inflasi bisa sedikit diredam. Kami ingin menjaga, kalaupun angka ini melewati kisaran yang diumumkan tapi tidak terlalu jauh," kata Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom kepada wartawan di Jakarta, Kamis sore (21/4).
Miranda mengakui gambaran inflasi di Indonesia saat ini agak meninggi namun dia optimis angka inflasi tahun ke tahun (Maret 2005 terhadap Maret 2004) sebesar 8,81 persen dan tahun kalender Januari-Maret 2005 mencapai 3,19 persen akan turun meski tidak bisa memprediksikan besarannya.
"Tapi ini tidak bisa jalan sendiri, ada tindakan yang harus dilakukan karena kalau tidak inflasi sulit seperti yang diharapkan," kata dia.
Menurut Miranda, deposito di perbankan Indonesia yang bunganya enam persen, tapi masih harus dipotong pajak 20% sehingga tidak akan menarik masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank.
"Kalau orang tidak tertarik menyimpan uang di bank, tapi membelanjakannya mungkin bisa menggerakkan perekonomian selama suplai tercukupi. Tapi, kalau suplai tidak tercukupi maka akan terjadi kenaikan harga barang yang mendorong inflasi," kata dia menjelaskan.
Hal ini, ujar Miranda, bisa diperparah kalau masyarakat memilih membelanjakan uangnya untuk membeli dolar AS.
"Tentu ini tidak kita inginkan, terlebih lagi ekonomi regional sedang tidak stabil. Dolar AS sebentar menguat, sebentar melemah terhadap sejumlah mata uang Asia khususnya Yen dan Euro Eropa," katanya.
Namun, dia menegaskan, meski inflasi nantinya diatas target, BI memiliki alasan yang bisa dijelaskan kepada publik.
"Pengaruh utamanya adalah kenaikan harga minyak. Ini bukan saja terjadi di Indonesia, karena negara lain juga terjadi tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia yang rata-rata diatas 50 dolar AS per barrel," kata Miranda.
Mengenai target inflasi pasca kenaikan harga BBM ini, dia menambahkan, bank sentral biasanya mengumumkan target inflasi di awal tahun dan akan melakukan revisi pada pertengahan tahun.
"Kalau sekarang kan belum pertengahan tahun," ujarnya.
Sementara itu rupiah pada penutupan hari ini kembali melemah 76 poin dan berada pada level Rp 9.640 per dolar AS. Dampaknya, indeks perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kembali melorot lagi ke level 1047,804 poin atau turun 23,42 poin.
Selain dipicu rupiah yang melemah terhadap dollar AS, penurunan indeks BEJ menurut analis juga akibat adanya kenaikan SBI sebesar 17 basis poin dan juga terimbas bursa regional yang sebagian besar mengalami penurunan. (*/dar)