"Perlihatkanlah suasana kondusif kepada kepala negara atau pejabat tinggi setingkat menteri dari 105 negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika yang saat ini berada di Indonesia, jangan lagi ada demo-demo, karena itu menyurutkan niat negara untuk menanamkan modalnya di Indonesia," kata Ade Sudrajat di Bandung, Sabtu.
Ia menambahkan, tidak hanya rasa aman yang perlu diperlihatkan kepada negara Asia-Afrika tersebut, tetapi juga kemampuan dalam mengatasi berbagai problema yang dapat menyurutkan niat investor seperti mengatasi problema sampah yang saat ini masih menumpuk di berbagai tempat, yang harus diselesaikan dalam waktu yang cepat.
Ade mengatakan, KTT Asia Afrika yang sedang berlangsung di Jakarta bukanlah lagi menyebarkan isu yang berbau politik seperti Konferensi Asia Afrikan (KAA) pada Tahun 1955 di Bandung, tetapi sudah menjurus kepada masalah perdagangan antar negara.
Momentum tersebut, menurut Ade, perlu disikapi positif oleh para pelaku ekonomi termasuk pemerintah Indonesia sendiri, karena di negara-negara Asia dan Afrika itu banyak sumber-sumber yang potensi untuk digarap baik dari kegiatan ekspor maupun dari segi penanaman modalnya.
Dari segi ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) ke negara Afrika misalnya, Ade mengakui baru "terjamah" antara 2 sampai 3 persen dari total ekspor TPT secara nasional, padahal beberapa negara di Afrika tersebut berpotensi untuk memasarkan barang-barang dari tekstil.
Ia mencontohkan, negara Afrika Selatan, Namibia, Mozambic, Somalia, Nigeria dan Maroko, merupakan negara-negara yang menjadi pasar menarik untuk memasarkan produk tekstil, namun andil Indonesia ke negara itu masih relatif kecil dibandingkan negara pesaing seperti China.
Disinggung tentang potensi negara Afrika lain untuk ekspor TPT, Ade mengatakan, sebenarnya ekspor Indonesia sudah masuk ke seluruh negara Afrika seperti Aljazair, Angola, Gambia, Ghana, Kamerun, Kenya, Sinegal, Tunisia, Uganda, Zambia dan Zimbabwe, namun nilainya sangat relatif kecil.
Disamping itu, kata dia, ekspor TPT Indonesia ke negara Afrika masih dilakukan secara tidak langsung, artinya masih menggunakan perantara negara lain, yaitu Singapura dan Dubai, sehingga untuk yang akan datang perlu ditingkatkan lagi sistem perdagangannya.
Ditanya tentang kegiatan yang akan dilakukan pengusaha Jabar termasuk yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jabar saat kepala negara dan pejabat tinggi setingkat menteri berkunjung ke Bandung pada 24 April 2005, Ade yang juga Kepala Bidang Industri dan Perdagangan Kadin Jabar mengatakan, untuk kepala negara tidak ada pertemuan yang dijadwalkan.
Sedangkan untuk delegasi pihaknya menyelenggarakan pameran yang berlangsung sejak 20 April lalu, dengan harapan agar para delegasi yang melihat pameran yang digelar di Gasibu itu ada terjadi kontak bisnis dengan pengusaha Indonesia. (*/lpk)