"Dalam KTT AA ini kita menfaatkan pertemuan sebagian anggota G-33 untuk membicarakan kembali perhatian kita terhadap SP dan SSM di mana kita ingin perjuangkan dalam fora globalisasi terutama dalam WTO," kata Menperdag Mari Pangestu, di Jakarta, Sabtu (23/04).
Hal tersebut dikemukakan Mari bersama Mentan Anton Apriyantono usai melakukan makan pagi bersama dengan sejumlah anggota delegasi G-33 yang sedang berada di Jakarta untuk mengadakan pertemuan KTT AA.
Menurut Mari, sebutan G-33 sebenarnya sudah tidak tepat lagi mengingat saat ini jumlahnya sudah bertambah delapan negara sehingga disebut G-42 yang anggotanya dari negara berkembang di benua Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan dan Karibia yang dikoordinasi oleh Indonesia.
Anggota G-42 terdiri atas Antigua dan Barbuda, Barbados, Belize, Benin, Botswana, Cina, Kongo, Pantai Gading, Kuba, Republik Dominika, Grenada, Guyana, Haiti, Honduras, India, Indonesia, Jamaika, Kenya, Korsel, Madagaskar, Mauritius, Mongolia, Mozambik, Nikaragua, Nigeria, Pakistan, Panama, Peru, Filipina, Saint Kitts dan Nevis, Saint Lusia, Saint Vincent dan Granada, Senegal, Srilanka, Suriname, Tanzania, Trinidad dan Tobago, Turki, Uganda, Venezuela, Zambia, dan Zimbabwe.
Dalam pembicaraan tersebut, Mendag mengatakan, anggota juga berupaya agar dalam perundingan perdagangan WTO mampu memberikan kontribusi bagi perbaikan dan perkembangan keamanan pangan dan matapencaharian serta kelanjutan bidang pertanian di negara-negara berkembang.
"Para delegasi tadi juga berpandangan akan memanfaatkan G-33 memajukan negara anggota sesuai dengan semangat AA," katanya.
Menurut Mari, tantangan G-33 nantinya akan diperjuangkan dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO di Hongkong akhir 2005 sebagai modal untuk mencapai cita-cita negara anggota.
"Sebelum melakukan pertemuan di Hongkong akhir tahun ini akan dibentuk suatu pertemuan menteri mini di Jakarta pada Juni 2005 yang ingin membahas strategi kita di WTO nanti," kata Mari.
Sementara Mentan Anton Apriyantono mengatakan, dalam pertemuan tadi para anggota juga menyepakati mengenai pentingnya membentuk kerangka kerja bagi upaya pengembangan kerjasama negara-negara anggota, khususnya bagi perdagangan produk pertanian.
"Kita tadi juga membicarakan berbagai persiapan yang akan dilakukan dalam pertemuan Juni nanti. Diharapkan para delegasi sudah membawa proposal yang tidak terlalu panjang agar pembahasannya bisa lebih fokus," kata Anton.
Ia juga mengatakan, untuk produk pertanian misalnya, sesama negara anggota hendaknya bisa saling membantu apabila ada satu negara anggota yang mengalami kerugian maka bisa dibantu oleh negara anggota lain.
"Untuk kasus cengkeh misalnya kita sebaiknya melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dan menghindari adanya persaingan antar sesama negara anggota," kata Mentan. (*/lpk)