"Saya optimis dengan situasi politik dan keamanan yang terus membaik jumlah wisman yang selama ini belum menembus 6 juta bisa tercapai tahun ini," katanya di sela-sela Festival Gianyar (27-30 April2005) dan peresmian gallery Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) di Jakarta, Rabu malam.
Ia mengatakan target tersebut pasar pariwisata Indonesia yang terbesar masih dari Jepang, Australia, dan Singapura.
Namun, lanjut dia, ada potensi pasar baru yang kini terus digarap pemerintah dalam lima tahun mendatang yaitu wisman dari China, Timur Tengah (Timteng), dan India.
"Saat ini di China dan India yang penduduknya masing-masing sekitar 1,3 miliar dan 1,0 miliar orang itu ada 30% kelas menengah yang punya naluri piknik (ke luar negeri)," katanya.
Sedangkan pasar Timteng, sebagian besar merupakan masyarakat kaya yang kini memiliki hambatan psikologis melakukan perjalanan wisata ke Amerika Srikat (AS) atau Eropa, sehingga mulai beralih ke daerah Timur, termasuk Indonesia.
"Pasar non tradisional itu akan terus kita garap secara intensif, apalagi ada semangat Asia Afrika dimana sektor pariwisata paling terkena dampak positifnya karena lebih dari 50 kepala negara ada dan mau berjalan kaki di Indonesia yang bisa menjadi citra Indonesia yang aman," katanya.
Oleh karena itu, Jero optimis wisman akan menembus angka 6 juta orang atau naik dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,3 juta orang, bila keamanan dan stabilitas politik di dalam negeri tetap berjalan seperti sekarang.
"Negara non tradisional pasar pariwisata kita itu diperkirakan akan memberi kontribusi sekitar 20-30% dari total kedatangan wisman tahun ini," katanya.
Pada sisi lain, Jero juga menyayangkan masih rendahnya perjalanan masyarakat Indonesia ke 32 propinsi di negerinya sendiri. "Saya punya data setiap anak bangsa baru 2,3 propinsi yang dikenal (dikunjungi), kita punya 32 propinsi, masih ada 30 propinsi yang belum dilihat."
Oleh karena itu ia mengimbau agar jangan dulu melakukan wisata ke luar negeri sebelum melihat keragaman dan keindahan obyek wisata di negeri sendiri. "Jangan kagum negara lain, sebelum lihat seluruh negeri sendiri," ujarnya. (*/erl)