< >

Presiden SBY Tegaskan Tak Ada Alasan Nilai Tukar Rupiah Terguncang

Kamis, 28 April 2005 17:41
Kapanlagi.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa tidak ada alasan apapun yang menyebabkan nilai tukar rupiah terguncang karena kondisi ekonomi, politik dan keamanan stabil.

"Tidak ada alasan apapun nilai tukar rupiah terguncang dan jatuh secara tidak semestinya," kata presiden pada saat memberikan sambutan pada acara pencanangan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan peringatan hari air ke 13 di Istana negara Jakarta, Kamis.

Presiden mengatakan bahwa pada Rabu (27/4) ia berkunjung ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) untuk melihat pergerakan indeks harga saham gabungan dan pergerakan nilai tukar rupiah karena pada minggu terakhir terjadi semacam kepanikan moneter.

Pemerintah katanya, telah bekerja untuk mengatasi masalah tersebut.

"Mudah-mudahan nilai tukar rupiah akan kembali normal dan pulih seperti sedia kala," katanya.

Presiden mengatakan ia harus turun langsung memantau pergerakan rupiah agar rakyat tidak resah dan memiliki salah pengertian.

Ia mengatakan bahwa makro ekonomi dan fundamental ekonomi Indonesia baik. Cadangan devisa masih sekitar US$36 juta. Pertumbuhan ekonomi baru-baru ini berkisarr 5,1% dan diharapkan menjadi 5,5%.

"Inflasi memang naik tetapi bisa dijelaskan mengapa naik," katanya.

Faktor-faktor lain yakni, stabilitas politik dan kemanan secara nasional juga tak ada goncangan dan tidak buruk. Oleh sebab itu perlu dijelaskan mengapa terjadi penurunan nilai tukar rupiah.

Pasar uang katanya sama dengan pasar ekonomi yang lain, yang juga menganut hukum ekonomi. Jika pembelian dolar AS meningkat sementara persediaan atau penawarannya tetap maka harga akan naik. Demikian juga jika permintaan dolar AS sedikit namun persediaan tetap maka harga akan turun.

Ia mengatakan telah terjadi pembelian dolar AS yang banyak secara tiba-tiba karena ada lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang membutuhkan dolar dalam jumlah besar untuk kepentingan usaha mereka. Seperti membayar impor dan kewajiban-kewajiban mereka.

Pada saat itu, katanya biasanya ada pihak-pihak yang `mengintip` yakni para spekulan yang ingin mencari untung. Akibatnya terjadi sedikit `rush` (pembelian dolar dalam jumlah besar).

Oleh sebab itu Kepala negara berharap tidak ada kegaduhan politik. Beliau juga berharap jangan ada kegaduhan psikologis yang akhirnya membuat pasar betul-betul panik sehingga tidak terkelola dengan baik.

Selain itu juga, presiden menyebutkan adanya faktor eksternal yakni kebijakan Federal Reserve AS yang menyebabkan dolar menguat terhadap mata uang lain. (*/erl)