"Pembuatan lapisan cemara udang di sepanjang pantai dapat digunakan sebagai benteng untuk melindungi penduduk dan tempat berkembangnya satwa yang sangat peka dengan tanda-tanda terjadinya tsunami, sehingga dapat memberi isyarat kepada manusia akan datangnya bencana itu," katanya di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, tumbuhan cemara udang mampu menahan tiupan angin kencang, hempasan gelombang laut, dan terpaan pasir yang bergulung di sepanjang pantai selatan, sehingga sangat baik digunakan sebagai `windbarier` di kawasan pantai yang rentan terhadap bahaya angin kencang atau badai selatan dan tsunami.
Ia mengemukakan, saat ini cemara udang telah tumbuh dan bersambungan dari Pantai Samas sampai Pantai Pandansimo, dan terus berkembang ke barat dari muara Sungai Oya sampai Sungai Opak, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sepanjang sekitar sembilan kilometer dan mencakup wilayah yang berkembang dari tidak bermanfaat menjadi bermanfaat sekitar 200 hektar.
"Tempat berpasir di tepi pantai dari Pantai Samas sampai Pandansimo sekitar 10 tahun lalu selalu bergerak bergulung, dan bentuk pantai berubah setiap saat. Udara panas dan tiupan angin menerpa setiap saat dan tidak ada vegetasi yang dapat bertahan pada jarak satu kilometer, dan pengaruh angin laut kencang itu dapat mencapai lima kilometer," ujarnya.
Menurut dia, lahan pasir tersebut sangat sulit untuk ditanami apapun karena kadar garam yang tinggi dari udara yang tertiup kencang. Berbagai cara dan usaha telah banyak dilakukan tetapi sia-sia, dan lahan pertanian terus terdesak jauh ke belakang dan menjauh dari pantai.
Untuk mengatasi permasalahan itu, UGM mencoba melakukan penanaman dengan berbagai vegetasi, tetapi selalu berakhir dengan kematian, termasuk usaha awal penanaman dengan cemara (bukan cemara udang), nyamplung, dan ketapang.
Kemudian ditemukan jenis cemara udang dari Madura dan mulai menanamnya.
Cemara udang itu sebagai pilihan `windbarier`, yang ternyata mampu tumbuh di kawasan pantai selatan. Beberapa tahun kemudian wajah pantai mulai berubah, dan pasir mulai berhenti bergerak.
Sejak saat itu angin tidak lagi meniupkan pasir bergulung, ternak mulai mendekati wilayah pantai dan orang mulai mendekat ke pantai untuk menambah wilayah tanamnya serta menikmati indahnya ombak tanpa diterpa angin kencang dan dibakar terik matahari.
"Di sepanjang Pantai Samas kondisi telah berubah dari kering dan panas menjadi sejuk, ditambah ramainya satwa yang berkembang dari kupu sampai burung. Setelah cemara udang tumbuh banyak, vegetasi lain yang tadinya tidak hidup menjadi sangat berkembang, dan sangat menghasilkan bagi penduduk serta pengembangan wilayah wisata," katanya. (*/lpk)