Kini Cannavaro menjadi pemain Juventus dan tayangan RAI itu akan menyoal pertanyaan apakah memang peredaran obat terlarang sudah mulai marak di Liga Seri A. Apalagi jika diingat kebelakang hasil pertandingan babak final Piala UEFA 1999 silam itu kemudian dimenangkan oleh Parma setelah mengalahkan wakil Perancis, Marseille 3 gol tanpa balas.
Meski Cannvaro tidak tampil dalam tayangan RAI itu, namun pengacara Cannavaro, Paolo Trofino memberikan penjelasan. Menurut Trofino tetesan yang dimasukan ke lengan Cannavaro ketika itu merupakan obat `Neoton', sebuah jenis obat yang digunakan untuk operasi jantung yang berfungsi sebagai pelindung.
Bahkan Trofino dalam tayangan itu secara tegas menyatakan Neoton bukan obat yang masuk dalam daftar larangan dipergunakan oleh Komisi Doping dunia. Sebelum tayangan ini muncul, kabarnya Cannavaro mengancam akan mengambil tindakan hukum jika RAI menuduhnya melakukan sesuatu yang melanggar hukum.
"Neoton membantu melakukan regenerasi otot dan itu tidak termasuk dalam satu satu obat yang dilarang," ujar Trofino. Meski penggunaan Neoton tidak dilarang namun penyelidikan mengenai kemungkinan penggunaan obat doping di Juventus telah membuat tayangan Cannavaro itu menjadi sebuah hal yang mengkuatirkan.
Lilian Thuram yang kini memperkuat Juventus dan juga satu tim dengan Cannvaro di Parma mengatakan gambar yang diambil dan kemudian di tayangkan oleh RAI itu merupakan gambar yang diambil oleh salah satu pemain sebagai sebuah lelucon belaka. sementara itu komisi arbitrase olahraga (CAS) menegaskan Juventus tetap berhak atas semua gelar yang diperolehnya di era 1990an.
Keputusan itu diambil menyusul dijatuhkanya hukuman dokter tim Juventus Riccardo Agricola November silam atas penggunaan sejumlah bahan kimia dikurun waktu 1994-1998. Di masa itu Juventus meraih 3 gelar Liga Seri A dan sekali Piala Champions Eropa pada tahun 1996.
Kasus Agricola sendiri saat ini tengah memasuki banding yang diajukan oleh Agricola. Juventus sendiri saat ini menempati puncak klasemen Liga Seri A bers (jkn/tut)