"Pencarian fakta awal oleh Misi PBB di Liberia (UNMIL) menunjukkan sebagian tuduhan itu mendasar dan sebagian lagi tidak. PBB memperlakukan masalah ini sangat sungguh-sungguh," kata Dujarric. "Sementara kami terus menindak perbuatan yang menyimpang oleh seluruh misi pemelihara perdamaian, tampaknya jumlah tuduhan akan bertambah."
Kendati Sekjen PBB Kofi Annan telah seringkali mengatakan PBB memiliki kebijakan "toleransi nol" bagi kasus pelecehan seksual, badan dunia itu tak dapat berbuat banyak kecuali memulangkan pelakunya ke negara asal mereka dengan permintaan kepada pemerintah mereka agar menghukum mereka.
Namun dalam banyak kasus, pemerintah negara asal personel pemelihara perdamaian tak melakukan tindakan apa-apa. Tuduhan pelecehan seksual oleh personel pemelihara perdamaian PBB di Liberia diterima pekan ini oleh Departemen Pemelihara Perdamaian organisasi tersebut.
Personel pemelihara perdamaian di negara Afrika Barat itu dituduh melakukan eksploitasi seksual dan menukar barang, uang jasa dengan seks. Pasukan pemelihara perdamaian terdiri atas personel militer dan sipil dari negara anggota PBB, dan Dujarric mengatakan negara yang memberi sumbangan tentara telah diberitahu mengenai tuduhan dari Liberia tersebut
Saat ini terdapat sebanyak 15.000 personel pemelihara perdamaian di seluruh Liberia, negara yang memiliki tiga juta warga dan telah diporak-porandakan oleh 14 tahun perang saudara sampai Agustus 2003. Pengumuman mengenai tuduhan pelecegah seksual di Liberia itu dikeluarkan bersamaan dengan pengunduran diri Jacques Klein, utusan khusus PBB untuk Liberia.
Diplomat AS tersebut telah bertugas di negeri tersebut sejak Juli 2003. Klein, pemimpin misi PBB di Liberia, akan turun ketika kontraknya berakhir akhir bulan ini. Wakilnya, Abou Moussa, akan mengambil-alih tanggung jawab untuk sementara. Dujarric membantah bahwa Klein meletakkan jabatan karena berkaitan dengan munculnya kasus pelecehan seksual, yang diduga berjumlah 20 kasus. (*/tut)