"Saya agak terkejut dengan penurunan itu mengingat dua minggu terakhir justru terjadi tanda-tanda yang menunjukan seakan inflansi akan naik, sehingga ekspektasi pasar menunjukan bahwa inflasi akan naik," kata Fadhil di Jakarta, Selasa (3/5).
Salah satu tanda yang dimaksud Fadhil adalah pelemahan nilai rupiah beberapa waktu lalu akibat pembelian dolar oleh BUMN di pasar spot.
Nilai rupiah yang sebelumnya berpeluang mencapai level Rp10.000 per dolar AS akibat pembelian dolar oleh BUMN pada dua minggu terakhir April 2005, terhenti setelah Presiden melalui Bank Indonesia (BI) meminta mengatasi masalah rupiah yang makin terpuruk dan melakukan upaya untuk menghentikan kemerosotan itu.
Menurut Fadhil, penurunan inflansi tersebut mungkin diakibatkan oleh pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang belum sepenuhnya terakomodasi dan terjadinya deflasi akibat panen di beberapa daerah, sehingga harga-harga kebutuhan pokok relatif stabil.
"Jika demikian halnya mungkin laju inflansi dapat dikendalikan, dan sesuai dengan harapan pemeritah untuk menurunkan laju inflansi tahun ke tahun sebesar 1,5 persen, " katanya.
Walaupun, menurut Fadhil, target pemerintah untuk menekan laju inflansi tahun ke tahun pada nilai sekitar 7% cukup sulit untuk dicapai. "Dugaan saya laju inflansi tahun ke tahun akan berkisar 8% hingga 10%, mengingat laju inflansi tahun ke tahun sekarang (April 2005 terhadap April 2004) sebesar 8,12%," katanya.
Prediksi tersebut didasarkan pada alasan karena terjadinya tahun ajaran baru Juli 2005 dan berbagai perayaan hari raya seperti Idul Fitri dan Natal pada penghujung tahun.
"Pada kesempatan seperti itu sudah pasti harga-harga akan naik jadi biasanya akan terjadi inflansi," tambahnya.
Tetapi, menurut Fadhil, nilai inflansi tahun ke tahun tidak akan lebih dari 10% karena pemerintah akan terus melakukan berbagai upaya mengendalikan laju inflasi.
"Asalkan pemerintah dan BI melakukn koordinasi yang baik untuk menerapkan kebijakan yang konsisten dan kredibel maka inflansi akan dapat dikendalikan," katanya.
Menurut Fadhil sekalipun target 7% terbilang berat tetapi bukan tidak mungkin untuk dicapai.
"Jika pemerintah melakukan tindakan konkrit untuk mengurangi tindakan ekonomi yang tidak efisien atau berbiaya tinggi serta didukung dengan kebijakan-kebijakan yang kredibel dan dapat dipahami oleh pelaku pasar serta tidak ada perubahan-perubahan eksternal yang cukup signifikan seperti lonjakan harga minyak maka target tersebut mungkin akan tercapai," katanya.
Pada Senin (2/5), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2005 mencapai 0,34%, sehingga laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2005 sebesar 3,54%, sedangkan inflasi tahun ke tahun (April 2005 terhadap April 2004) sebesar 8,12%.
Menurut Kepala BPS, Choiril Maksum, inflasi tersebut disebabkan naiknya harga sejumlah barang dan jasa. Pada April 2005 kelompok komoditi yang memberikan andil inflasi adalah kelompok makanan jadi 0,10%, kelompok perumahan 0,17%, kelompok sandang 0,02%; kelompok kesehatan 0,01%, kelompok pendidikan 0,01% dan kelompok transportasi sebesar 0,07%, sedangkan kelompok bahan makanan memberikan andil sumbangan deflasi sebesar 0,04%. (*/dar)