< >

Hiddink: Kekalahan dari Milan Bukan Momentum Terburuk

Kamis, 05 Mei 2005 11:11
Kapanlagi.com - Pelatih PSV Eindhoven Guus Hiddink Rabu mengatakan, kekalahan dari AC Milan berdasarkan gol di kandang lawan dalam semifinal Liga Champion, bukan momentum terburuk dari karir gemilangnya. Pasukan Hiddink terlihat mendominasi AC Milan pada pertandingan kedua.

Tapi bahkan kemenangan 3-1 tidak cukup ketika Massimo Amrossini mencetak gol dalam detik-detik takhir sehingga pertandingan imbang menjadi 3-3. "Mengenai hasil ini saya merasa bangga dan juga kecewa," kata Hiddink yang memimpin PSV dalam merebut gelar Piala Eropa pada 1988. "Tapi itu bukan kekecewaan terbesar dalam karir saya."

"Pengalaman terburuk saya adalah ketika sebagai pelatih nasional Belanda ketika kalah dari Brazil pada semifinal Piala Dunia 1998 (kalah melalui penalti)," tambah Hiddink, yang juga berhasil membawa Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002. Sentimennya juga dirasakan beberapa pemainnya. Pemain veteran Phillip Cocu mencetak dua gol, tapi hasil akhirnya sungguh mengherankan.

"Saya merasa sakit, kata Cocu, yang meninggalkan Barcelona dan pindah ke PSV musim panas lalu. Pertandingan ini memerlukan ketangguhan mental dan fisik dan akhirnya itu yang menyebabkan kita kalah. Itulah sepakbola dan adakalanya terasa kejam."

Jan Vennegoor dari Hesselink, yang mencetak dua dari tiga gol, merasa gundah. "Itu mengerikan, sangat tidak adil. Kami mendominasi atas AC Milan pada tiap aspek permainan. Tak ada yang meragukan bahwa dalam dua pertandingan kami superior. Saya pikir kami akan memperoleh sesuatu yang mengesankan dan kemudian Ambrosini mencetak gol. Itu benar-benar amat mengecewakan."

Rekan Hiddink dari Italia Carlo Abcelotti memuji penampilan PSV. "Betapa mengagumkannya pertandingan itu. Saya ucapkan selamat kepada PSV karena lawan kami petang ini bermain amat luarbiasa bagusnya. Tapi kami yang melaju karena meratanya kebugaran dengan tingkat mengagumkan.

"Kami tak menerapkan strategi untuk kalah dalam pertandingan yang begitu dominasan, tapi PSV benar-benar menguasai kami," katanya. Ancelotti, yang memimpin AC Milan dalam merebut tropi Liga Chanmpion dua tahun lalu mengakui mereka akan menghadapi serius pertandingan final yang dijadwalkan pada 25 Mei lawan raksasa Inggris Liverpool di Istanbul.

"Kami perlu menganalisis apa yang salah malam ini dan berusaha memperbaikinya," kata mantan pemain tengah AC Milan itu. "Saya tak pernah berpikir bahwa kami akan mengalami hal yang sama dengan hasil yang diraih ketika melawan Deportivo La Coruna musim lalu (mereka kalah dalam perempatfinal kendati memimpin 4-1 dari pertandingan pertama) karena para pemain saya tetap bisa kalem."

Bisa dimengerti jika Ambrosini begitu terkesan dengan bola yang dimainkan. "Bola itu saya bawa pulang," kata pemain tengah berusia 27 tahun itu. "Kami menderita. Mereka bermain amat bagus, tapi kami mampu membatasi kekalahan. Dia berharap tidak hanya akan mendapat bola, tapi tropi pada 25 Mei nanti. (*/tut)