Otorita Penerbangan Sipil Belanda mengeluarkan larangan terbang bagi Phuket Air ke negara itu berlaku sejak Sabtu malam lalu (30 April), setelah mendapati adanya kerusakan pada sistem lampu darurat pada pesawat-pesawat Phuket Air yang melayani rute tersebut.
Phuket Air sebelumnya menerbang rute Bangkok-Amsterdam tiga kali sepekan. Sehubungan dengan larangan itu, Dirjen Penerbangan Thailand Chaisak Angkasuwan, mengatakan meski Phuket Air baru sebulan dinyatakan lulus tes inspeksi pesawat-pesawatnya, namun pihaknya tetap mengkonfirmasi penangguhan Belanda itu.
Chaisak mengatakan Phuket Air akan diperintahkan untuk menangguhkan penerbangannya ke Amsterdam sesuai permintaan otoritas penerbangan setempat, walau ketentuan yang disebutkan pihak Belanda itu "kecil" saja. Departemen Penerbangan Thailand, katanya, telah memberitahu pihak Belanda bahwa Phuket Air telah memperbaiki kerusakan sistem lampu darurat pada pesawatnya.
Namun keputusan akhir tetap di tangan Otorita Penerbangan Sipil Belanda mengenai kapan penerbangan bisa dimulai lagi. Wanchai Sarathulthat, Sekretaris Tetap untuk Penerbangan Thailand, mengakui penangguhan penerbangan Phuket Air ke Belanda itu telah menyebabkan banyak calon penumpangnya yang menyampaikan keluhan.
Begitupun, ia telah pula memberi instruksi kepada Departemen Penerbangan agar memenuhi standar-standar lebih ketat mengenai kualitas kontrol perusahaan penerbangan. Ia juga mengakui sebelumnya, Departemen Penerbangan telah terlalu kompromistis dalam menerapkan standar-standar keselamatan dan pelayanan penerbangan.
"Kini, saat Kementerian Transportasi akan meliberalisasi sektor penerbangan sipil, penting bagi operator-operator penerbangan untuk memenuhi baik standar keselamatan maupun pelayanan penerbangan," katanya.
Chairat Meksukri, Wakil Presiden Phuket Air, mengatakan masalah pada pelayanan Bangkok-Amsterdam tidak ada hubungannya dengan kerusakan pesawat, namun dengan kecerobohan seorang pilotnya dalam menjalani cek kesehatan, selain dalam soal kepemilikan lisensi sah untuk menerbangkan jenis-jenis pesawat tertentu.
Chairat menambahkan pilot bersangkutan telah dibebastugaskan dari dinas selama dua bulan, sedangkan penghentian rute Bangkok-Amsterdam itu menimbulkan kerugian perusahaannya sebesar 300 juta baht. Sementara itu Bandara Hat Yai di Provinsi Songklah, Thailand selatan, Selasa telah dibuka kembali, sebulan setelah sebuah ledakan bom yang menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya.
Kini pengamanan di bandara yang termasuk ramai digunakan kalangan bisnis dan wisatawan itu semakin diperketat. "Orang harus masuk dan keluar bandara lewat satu pintu gerbang. Setiap orang harus melewati mesin sinar-X pada pintu masuknya," kata seorang pejabat bandara.
Pejabat itu menambahkan ledakan bom bulan lalu menyebabkan kerusakan senilai 11 juta baht, selain itu pihak pengelola bandara harus pula memberi kompensasi sebesar 6,0 juta baht kepada keluarga-keluarga korban. (*/tut)